Dari Perut Bumi Mengalir Harapan untuk Petani Kopi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Sejarah panjang pengembangan panas bumi di Indonesia sejak 100 tahun lalu yang berawal dari Kamojang, Kabupaten Bandung kini menghadirkan manfaat yang melampaui pembangkitan listrik. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) atau PGE memanfaatkan energi panas bumi secara langsung untuk meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat daya saing kopi lokal, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasinya.
Kamojang yang berada di ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut dikenal sebagai salah satu sentra kopi Arabika di Indonesia. Bersama masyarakat setempat, PGE mengembangkan teknologi Geothermal Dry House, yakni fasilitas pengeringan yang memanfaatkan panas dari steam trap sistem panas bumi sebagai sumber energi alternatif untuk mengeringkan biji kopi.
Baca Juga
100 Tahun Panas Bumi RI Berawal dari Sini, PGE (PGEO) Kamojang Tekan Emisi 1,22 Juta Ton per Tahun
Corporate Secretary PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Muhammad Taufik mengatakan inovasi tersebut membuat proses pengeringan menjadi lebih higienis dengan tingkat kematangan biji kopi yang lebih merata.
"Dari sisi operasional, waktu pengeringan meningkat hingga 3 kali lebih cepat dengan efisiensi mencapai 300%. Jika sebelumnya petani membutuhkan waktu sekitar 30–45 hari, kini proses tersebut hanya memerlukan waktu sekitar 3–10 hari," kata Taufik saat media visit PLTP area Kamojang, Kabupaten Bandung dikutip Minggu (28/6/2026).
Percepatan proses pengeringan tersebut meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menekan biaya operasional. Di sisi lain, kualitas biji kopi tetap terjaga sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi dan mampu bersaing di pasar ekspor.
PGE menggandeng tiga kelompok tani, yakni Ecovill, Akkar, dan Penyoeka Kopi, dalam menjalankan program tersebut. Kolaborasi itu telah memberdayakan sekitar 320 keluarga petani kopi di kawasan Kamojang.
"Melalui inovasi seperti Geothermal Dry House, kami ingin memperlihatkan bahwa panas bumi tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara langsung untuk meningkatkan kualitas produk lokal dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat," kata dia.
Perjalanan komersialisasi teknologi ini dimulai melalui produksi perdana pada 2023. Dalam tahap awal tersebut, perusahaan mencatat penjualan 168 kilogram green bean atau biji kopi mentah senilai Rp 30,240 juta serta 29 kilogram roasted bean senilai Rp 10,150 juta. Fasilitas Geothermal Dry House yang digunakan memiliki kapasitas 500 kilogram.
Dari sisi pemasaran, Geothermal Dry House telah mengirimkan kopi ke sejumlah negara. Jepang tercatat menerima sekitar 5 ton, sementara Jerman mencapai 10 ton. Di pasar domestik, produk ini juga telah dipasarkan ke sejumlah pelaku industri kopi di Lampung, Bandung, dan Cirebon.
Perusahaan menyatakan memiliki kesiapan ekspor melalui pelabuhan Indonesia dengan dukungan berbagai opsi pengemasan, termasuk GrainPro, karung goni, hingga private label. Produk juga telah mengantongi sertifikasi halal dan Perizinan Industri Rumah Tangga (PIRT).
Ke depan, peluang ekspor baru disebut datang dari Riyadh di Arab Saudi dengan potensi permintaan mencapai 20 ton, serta Korea Selatan sekitar 10 ton. Selain itu, perusahaan juga menjajaki pasar Jeddah, Dubai, dan Abu Dhabi sebagai tujuan ekspansi berikutnya.
Panas Bumi untuk Ekonomi dan Lingkungan
Manajer HSSE PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Kamojang Hendrik Sinaga mengatakan, pemanfaatan panas bumi di Kamojang tidak berhenti pada sektor kopi. PGE juga mengembangkan program KANYAAH atau Kamojang Agri-Aquaculture Energized by Geothermal yang memperluas penggunaan energi panas bumi ke berbagai sektor produktif.
Baca Juga
BI Bidik Ekspor Kopi US$ 12,5 Miliar Melalui Program Cangkir Barista
Melalui program tersebut, panas bumi dimanfaatkan untuk mendukung sektor perikanan melalui Geothermal Fishery, pertanian melalui Geothermal Farming, pengolahan hasil panen melalui Geothermal Food, hingga produksi pupuk organik ramah lingkungan melalui GeO-Fert.
Di bidang lingkungan, perusahaan juga menjalankan program konservasi Elang Jawa melalui Pusat Konservasi Elang Kamojang. Upaya menjaga keseimbangan antara pengembangan energi bersih, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat tersebut mengantarkan Area Kamojang menjadi satu-satunya unit panas bumi di Indonesia yang berhasil meraih 15 penghargaan Proper Emas secara berturut-turut.
Berbagai program pemberdayaan yang dijalankan perusahaan telah memberikan manfaat kepada sekitar 15.000 penerima manfaat di sektor ekonomi, sosial, dan lingkungan.
