Menteri PU Dorong Swasembada Aspal Nasional Buntut Gejolak Timur Tengah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo mendorong swasembada aspal nasional di tengah dinamika geopolitik global, khususnya konflik Iran-Israel/Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada lonjakan harga energi dunia.
“Hari ini kita berada di tengah dunia yang sedang tidak baik-baik saja, seperti kata Pak Presiden Prabowo Subianto, dinamika geopolitik global yang terus bergerak, termasuk di kawasan Timur Tengah, yang berdampak pada pelonjakan harga energi secara global, terganggunya pasok energi dunia, terus kemudian lari kepada tekanan fiskal dan polarisasi geopolitik serta risiko ketidakpastian investasi,” kata Dody di kantornya, Jakarta Selatan, Kamis (2/4/2026).
Ia menyebut, situasi tersebut mendorong harga minyak berfluktuasi semakin tinggi dan berimbas langsung pada sektor infrastruktur, khususnya material strategis seperti aspal. “Situasi ini mendorong harga minyak menjadi berfluktuasi semakin tinggi dan berimbas langsung kepada sektor infrastruktur kita, khususnya pada material strategis yang kita pakai yaitu aspal,” ungkap Dody.
Menurut Dody, ketergantungan terhadap impor menjadi risiko yang harus dikelola secara disiplin agar biaya pembangunan tidak meningkat. “Kondisi ini memberi pesan yang sangat jelas bahwa ketergantungan adalah sebuah risiko dan dalam pembangunan nasional, risiko harus kita kelola dengan sangat disiplin agar cost tidak kemudian menjadi meledak,” ucapnya.
Dia mengungkap, kebutuhan aspal nasional saat ini mencapai sekitar 1 juta ton per tahun dan diproyeksikan meningkat menjadi 1,5 juta ton per tahun pada tahun-tahun mendatang. Namun, hampir 80% kebutuhan tersebut masih bergantung pada aspal berbasis minyak bumi atau impor.
Baca Juga
“Namun demikian, sekitar mungkin hampir 80% masih bergantung pada aspal yang berbasis pada minyak bumi atau impor. Di sisi lain, kita memiliki cadangan mineral yang bernama aspal buton yang sangat besar di Pulau Buton. Namun untuk pemanfaatannya saat ini masih sangat-sangat terbatas,” papar Dody.
Ia menambahkan, pemanfaatan aspal Buton atau asbuton saat ini baru sekitar 4% dari total kebutuhan nasional. Untuk itu, Kementerian PU menargetkan penggunaan aspal Buton dalam konstruksi jalan nasional hingga minimal 30%.
“Untuk itu, Kementerian Pekerjaan Umum akan mendorong pemanfaatan kebudayaan lokal melalui penggunaan aspal buton dalam konstruksi jalan nasional hingga mencapai minimal 30%,” ujar Dody.
Lebih jauh, Dody menyatakan, peningkatan penggunaan asbuton berpotensi memberikan efisiensi negara sekitar Rp 4 triliun serta tambahan penerimaan pajak hampir Rp 2 triliun. Selain itu, pengembangan industri asbuton diperkirakan menciptakan nilai tambah ekonomi hingga sekitar Rp 23 triliun serta membuka ribuan lapangan kerja baru.
“Optimalisasi penggunaan asbuton untuk dalam pembangunan jalan merupakan langkah strategis untuk mendorong kemandiran ekonomi, mendorong industrialisasi nasional, meningkatkan efisiensi fiskal, serta menjaga ketahanan pasokan material dalam jangka panjang,” tutur Dody.

