Perjalanan 19.000 Km, Ungkap Sisi Tambang MIND ID Lewat Film Dokumenter
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – BUMN pertambangan MIND ID, menghadirkan film dokumenter sebagai media edukasi untuk memperkuat integrasi internal holding sekaligus mengubah persepsi publik terhadap industri pertambangan, seiring upaya mendorong praktik pertambangan berkelanjutan dan transparan di Indonesia.
Proses produksi dilakukan dengan pendekatan perjalanan dari Sumatra hingga Papua selama 53 hari dengan total jarak sekitar 19.000 km.
Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin mengatakan inisiatif ini muncul dari kebutuhan menyatukan berbagai entitas dalam holding yang relatif baru terbentuk. MIND ID merupakan induk holding industri pertambangan yang menaungi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam, PT Timah Tbk (TINS), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Freeport Indonesia, PT Inalum, hingga Vale Indonesia Tbk (INCO).
Ia menuturkan tantangan utama sejak awal adalah mengorkestrasi beragam budaya kerja yang telah terbentuk lama di masing-masing entitas. Untuk itu, perusahaan memilih pendekatan visual melalui film untuk menyampaikan nilai dan budaya bersama secara lebih efektif.
“Saya berpikir sejak awal masuk ke MIND ID bahwa masing-masing anggota holding ini harus menjadi satu kesatuan di bawah naungan MIND ID. Tantangannya adalah bagaimana mengorkestrasi berbagai budaya kerja yang sudah lama terbentuk dan berbeda-beda,” ujar Maroef dalam gala premier film dokumenter MIND Journey di Jakarta, Rabu (1/4/2026) malam.
Melalui film, MIND ID ingin memastikan setiap entitas dalam holding saling mengenal dan memahami peran masing-masing. Ia menekankan bahwa Antam, Bukit Asam, Inalum, Freeport, Vale, dan Timah merupakan bagian dari satu rumah besar yang perlu terhubung secara budaya dan visi.
Baca Juga
Tiga Tahun MIND ID, Perkuat Hilirisasi dan Perluas Peran Global
Selain tujuan internal, Maroef menilai pendekatan ini juga penting untuk menjawab persepsi publik yang kerap negatif terhadap sektor pertambangan. Ia mengakui aktivitas tambang memang mengubah lingkungan, tetapi praktik yang dijalankan dengan kaidah good mining practice mampu menjaga keberlanjutan dari tahap perencanaan hingga pascatambang.
“Memang benar, kegiatan tambang mengubah lingkungan. Namun jika dilakukan dengan semangat dan nilai-nilai good mining practice, maka nanti Bapak dan Ibu akan melihat bagaimana anggota holding menjalankan praktik tersebut,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya edukasi publik terkait kontribusi hasil tambang dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai produk, termasuk telepon genggam, merupakan bagian dari hilirisasi sumber daya mineral yang berasal dari aktivitas pertambangan.
Dalam konteks global, Maroef mengingatkan adanya potensi kebocoran sumber daya melalui jalur ilegal yang dapat dimanfaatkan negara lain untuk menghasilkan produk bernilai tinggi. Ia menyebut komoditas, seperti tanah jarang kini menjadi incaran dunia karena perannya dalam industri teknologi tinggi.
Menurutnya, pengawasan terhadap tata kelola pertambangan saat ini semakin diperketat untuk memastikan sumber daya nasional memberikan manfaat optimal bagi perekonomian domestik.
“Memang ada praktik pertambangan yang merusak lingkungan, itu benar terjadi. Namun tidak tepat jika digeneralisasi bahwa seluruh kegiatan pertambangan merusak, termasuk kami di MIND ID yang selalu mengedepankan kaidah good mining practice,” ujarnya.
Inisiatif produksi film ini telah dirancang sejak Juli 2025 dan melibatkan perjalanan panjang lintas wilayah operasi holding. Upaya tersebut dilakukan untuk menghadirkan gambaran nyata aktivitas pertambangan dari hulu hingga hilir.
Sementara itu, produser Nia Sihasale menjelaskan proyek dokumenter ini dikemas dalam 13 episode agar seluruh entitas dalam holding mendapatkan porsi yang seimbang. Ia menegaskan konten yang ditampilkan berfokus pada dampak positif kegiatan pertambangan bagi masyarakat. “Hal-hal yang baik yang sudah dibuat, dilakukan, sangat berdampak positif buat masyarakat seluruh Indonesia bisa lihat. Karena hal baiknya harus dikasih lihat,” ujar Nia.
Baca Juga
Ia menambahkan proses produksi dilakukan dengan pendekatan perjalanan dari Sumatra hingga Papua selama 53 hari dengan total jarak sekitar 19.000 km. Selama perjalanan, tim mendokumentasikan aktivitas pertambangan secara langsung tanpa rekayasa.
Menurutnya, keterlibatan generasi muda juga menjadi bagian penting dalam proyek ini. Dua figur muda diajak untuk melihat langsung aktivitas pertambangan agar memperoleh perspektif yang lebih objektif. “Anak muda sekarang harus tahu apa yang benar, jangan hanya percaya hoaks saja. Apa yang kami tampilkan ini real, tidak ada rekayasa,” katanya.

