Bagikan

Jasa Marga (JSMR) Ungkap Penyebab Macet Parah Mudik 2026

Poin Penting

Kemacetan mudik 2026 dipicu lonjakan hingga 270.000 kendaraan yang melampaui kapasitas ideal tol.
Rest area KM 57 dan KM 62 menjadi bottleneck akibat desain akses masuk yang sempit dan curam.
Pemerintah menyiapkan perombakan total rest area sebelum libur Natal 2026 dan Tahun Baru 2027.

JAKARTA, investortrust.id — Direktur Utama PT Jasa Marga Tbk (JSMR), Rivan A Purwantono menyatakan, kemacetan padat saat arus mudik Lebaran 2026 dari Jakarta ke arah timur terjadi akibat lonjakan volume kendaraan yang melampaui kapasitas ideal ruas tol, terutama di sekitar rest area.

Ia menyebut, sebelum periode puncak mudik, Jasa Marga telah mengimbau untuk melakukan perjalanan seiring pemberlakuan diskon tarif tol pada 14–16 Maret. Namun, volume kendaraan tetap tinggi hingga 270.000 kendaraan.

“Kemacetan paling padat posisinya di (tol layang) MBZ sampai yang (rest area) KM 57,” kata Rivan saat ditemui seusai penutupan posko angkutan Lebaran 1447 Hijriah di kantor Kemenhub, Jakarta Pusat, Senin (30/3/2026).

Hingga 19 Maret 2026, lanjut Rivan, pihaknya melakukan uji coba pengaturan lalu lintas dan mencatat kecepatan rata-rata kendaraan mencapai 73 km per jam, yang dinilai sebagai kondisi ideal, yakni V/C ratio kurang lebih 0,60-0,70.

Adapun kepadatan lalu lintas yang terjadi imbas pengaturan masuk dan keluarnya kendaraan di rest area. Menurut Rivan, kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi pengelolaan rest area, khususnya di KM 57 dan KM 62. Evaluasi dilakukan bersama Kementerian Pekerjaan Umum (PU), utamanya Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT).

“Ini bagus juga buat kami melakukan evaluasi tentang rest area. Kemarin dengan Kepala BPJT, kami juga mengusulkan mari kita evaluasi bersama-sama di KM 57 dan 62,” ujarnya.

Lebih lanjut, Jasa Marga mengevaluasi pengaturan alur kendaraan di rest area, termasuk imbauan durasi istirahat maksimal 30 menit yang dinilai sulit diterapkan mengingat kebutuhan setiap pengguna jalan tol berbeda-beda.

Rivan mengatakan, aturan tersebut akan disesuaikan kembali, termasuk penataan kantong parkir eksisting. Ia mencontohkan, kapasitas rest area KM 57 di ruas tol Japek mencapai sekitar 1.400 kendaraan dan menjadi yang tertinggi pada periode Angkutan Lebaran tahun ini.

“Jumlah kendaraan sekarang bertambah, maka flow-nya juga berbeda. Ini yang kami evaluasi bersama, karena sekarang yang lebih penting, kita untuk menambahkan kembali (kantong parkirnya) walaupun memang kepadatannya hanya di musim-musim lebaran seperti itu,” ungkap Rivan.

Pada arus balik, Jasa Marga memprediksi volume kendaraan akan terjadi kepadatan 285.000, tetapi realisasinya hanya sekitar 250.000 setelah dilakukan sosialisasi perjalanan arus balik alternatif pada 24 Maret 2026.

Dikatakan Rivan, pergeseran perjalanan menjadi 25–27 Maret 2026 membuat kondisi lalu lintas tetap landai. Ia menyebut kapasitas ideal ruas tol saat ini sekitar 260.000 kendaraan dari empat gerbang tol (GT) utama, yakni GT Cikampek Utama (arah Trans Jawa), GT Kalihurip Utama (arah Bandung), GT Cikupa (arah Merak/Barat), dan GT Ciawi (arah Puncak/Selatan). “Jadi memang kalau lebih dari itu, pasti dibutuhkan ruas lagi (untuk antisipasi kemacetan)” ucapnya.

Baca Juga

Hadirkan Pengalaman Mudik Menarik, Bank Mandiri Tebar Beragam Promo di Rest Area dan Kapal Ferry

Rivan menyinggung keberadaan kendaraan sumbu tiga atau lebih di Tol Jakarta-Cikampek (Japek) non-elevated yang sempat mengganggu arus pemudik. Ia menuturkan, keputusan rekayasa lalu lintas melalui surat keputusan bersama (SKB) pemerintah dan kepolisian dapat dilakukan cepat dan tepat, bahkan kurang dari delapan jam.

“Sekitar jam 11.15 WIB itu sudah terurai. Bahkan yang berangkat jam 12.00 WIB, jam 13.00 WIB juga sudah normal kembali,” tutur Rivan.

Terkait efektivitas diskon tarif tol, Rivan menilai kebijakan tersebut lebih efektif pada arus balik dibandingkan arus mudik. Ia mengatakan, distribusi lalu lintas pada arus balik bergeser dari 24 Maret ke 26–27 Maret. “Yang arus balik sangat efektif, yang berangkat tidak begitu,” katanya.

Rest area tipe A yang dikelola oleh PT Jasa Marga Semarang Batang di Km 379A arah Semarang dari Jakarta. Foto: Dok. Jasa Marga Semarang Batang

Terpisah, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menginstruksikan perombakan fundamental pada dua titik paling krusial di Tol Japek, yakni rest area KM 57 dan KM 62, guna mengurai kemacetan parah yang kerap terjadi.

​Langkah tegas ini diambil setelah pihaknya mengidentifikasi kedua titik tersebut sebagai sumber utama hambatan arus atau bottleneck. Desain pintu masuk (entry gate) rest area eksisting dinilai terlalu sempit dan curam, sehingga menyebabkan perlambatan ekstrem kendaraan yang memicu antrean mengular hingga puluhan kilometer ke badan jalan utama.

Dody menekankan pentingnya perubahan arsitektural pada akses masuk dan keluar tempat istirahat tersebut. Ia menargetkan transformasi ini harus rampung sebelum periode libur Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru 2026/2027) mendatang.

Baca Juga

Mudik Lebaran Makin Nyaman, Ada Posko Bank Jakarta di 'Rest Area' Semarang

​"Struktur pintu masuk dan keluar akan dirancang ulang agar lebih landai demi mengakomodasi fluktuasi volume kendaraan besar secara simultan," kata Dody dalam keterangan resmi, dikutip Senin (30/3/2026).

​Selain perbaikan geometrik jalan, kata Dody, pihaknya bersama private sector juga berencana merevitalisasi rest area yang tidak memiliki fasilitas SPBU agar memiliki daya tarik fungsional yang setara. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir kebiasaan berisiko para pemudik yang nekat beristirahat di bahu jalan tol hanya karena mengejar fasilitas tertentu di rest area yang padat.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024