Harga Emas Melemah Saat Pasar Khawatir Suku Bunga Bertahan Tinggi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas melemah pada Senin (16/3/2026) karena kekhawatiran inflasi akibat konflik Timur Tengah berpotensi membuat suku bunga global bertahan tinggi lebih lama, sehingga menekan daya tarik logam mulia meski dolar AS melemah.
Harga emas spot turun 0,4% menjadi US$ 4.998,69 per ons, setelah sempat menyentuh level terendah sejak 19 Februari pada awal perdagangan. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat (AS) untuk pengiriman April juga turun 1,1% menjadi US$ 5.004,90.
Penurunan ini terjadi meskipun dolar AS melemah dari posisi tertinggi dalam 10 bulan terakhir, yang seharusnya meningkatkan daya tarik emas bagi investor pemegang mata uang lain. Namun, tekanan inflasi yang dipicu kenaikan harga energi dinilai lebih dominan dalam memengaruhi arah pasar.
Baca Juga
Emas Antam (ANTM) Turun Tipis ke Rp 2,992 Juta, Geopolitik dan Suku Bunga Jadi Faktor
Analis menilai lonjakan harga minyak menjadi faktor utama yang meningkatkan ekspektasi inflasi global. Kondisi tersebut berpotensi membuat bank sentral, termasuk Federal Reserve (The Fed), menahan suku bunga di level tinggi lebih lama.
“Dengan harga minyak yang lebih tinggi, inflasi pun akan meningkat. Jika inflasi meningkat, bank sentral tidak akan termotivasi seperti 6 bulan lalu untuk memangkas suku bunga, yang berdampak negatif bagi harga emas,” kata analis pasar senior Bob Haberkorn dikutip CNBC.
Ia menambahkan, prospek jangka panjang emas masih positif di tengah ketidakpastian global yang meningkat. “Namun saya masih sangat optimis terhadap emas, mengingat apa yang terjadi di seluruh dunia. Banyak uang masih menunggu untuk memasuki pasar ini, dan saya masih memperkirakan harga emas akan mencapai US$ 6.000 per ons,” kata dia.
Dalam kondisi suku bunga tinggi, emas cenderung kehilangan daya tarik karena tidak memberikan imbal hasil, seperti obligasi atau instrumen berbunga lainnya. Hal ini meningkatkan biaya peluang bagi investor untuk memegang emas.
Dari sisi energi, harga minyak turun pada perdagangan Senin, tetapi secara kumulatif telah melonjak lebih 60% sepanjang tahun ini. Lonjakan tersebut dipicu konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang melibatkan Israel, yang kini memasuki minggu ketiga tanpa tanda-tanda mereda.
Ketegangan geopolitik itu juga berdampak pada jalur distribusi energi global, termasuk Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Baca Juga
Emas Antam di Pegadaian Tak Bergerak, Harga 1 Gram Rp 3,10 Juta
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati sejumlah agenda ekonomi penting Amerika Serikat pekan ini, termasuk data Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index, klaim pengangguran mingguan, serta keputusan kebijakan moneter bank sentral.
Pasar memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Selasa dan Rabu. Data ekonomi terbaru menunjukkan belum ada perubahan signifikan dalam prospek inflasi, sementara bank sentral tersebut juga tengah memasuki fase transisi kepemimpinan baru.

