Harga Emas Antam (ANTM) Turun Rp 55.000 Imbas Penguatan Dolar dan Lonjakan Biaya Energi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam hari ini Senin (9/3/2026) dipantau laman Logam Mulia mencapai Rp 3,005 juta atau turun Rp 55.000 dari Sabtu (7/3/2026) Rp 3,059 juta per gram setelah penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan lonjakan biaya energi memicu kekhawatiran inflasi global serta mengurangi harapan penurunan suku bunga dalam waktu dekat.
Adapun rekor tertinggi sepanjang sejarah (all time high/ATH) sebelumnya di level Rp 3,168 juta per gram yang dicetak pada Kamis 29 Januari 2026. Sedangkan harga jual kembali (buyback) emas Antam sebesar Rp 2,757 juta atau turun Rp 65.000 dari sebelumnya Rp 2,822 juta.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Turun Makin Menjauh dari Rekor Rp 3,168 Juta
Harga emas Antam bergerak di tengah harga emas dunia yang turun lebih 2% pada Senin (9/3/2026). Di pasar spot, harga emas turun 2,5% menjadi US$ 5.041,89 per ons atau sekitar Rp 78,4 juta per ons dengan asumsi kurs Rp 15.550 per dolar AS. Sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April melemah 2,1% menjadi US$ 5.049,40 per ons.
Selain itu, imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor 10 tahun juga naik ke level tertinggi hampir satu bulan. Kenaikan imbal hasil tersebut meningkatkan biaya peluang memegang emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi.
Kombinasi penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil obligasi memperburuk sentimen pasar terhadap emas. Kekhawatiran inflasi yang dipicu lonjakan harga energi juga membuat investor memperkirakan bank sentral AS akan menahan suku bunga lebih lama.
Lonjakan harga minyak mentah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kekhawatiran inflasi global. Harga minyak sempat melonjak hingga menembus US$ 100 per barel di tengah kekhawatiran pasokan yang lebih ketat serta gangguan berkepanjangan terhadap pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan biaya produksi dan transportasi secara global, sehingga memperkuat tekanan inflasi. Kondisi tersebut dapat memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk menjaga stabilitas harga.
Pelaku pasar memperkirakan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuannya pada akhir pertemuan dua hari yang dijadwalkan selesai Selasa (18/3/2026).
Berdasarkan alat FedWatch milik CME Group, peluang suku bunga tetap stabil pada Juni meningkat menjadi lebih dari 51%. Sebelumnya, probabilitas tersebut berada di bawah 43% pada pekan lalu.
Baca Juga
Setahun 'Bullion Bank', Emas Kelolaan BSI (BRIS) Tembus 22,5 Ton
Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dalam waktu lebih lama biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas. Kondisi tersebut membuat investor cenderung memilih aset berbunga seperti obligasi dibandingkan logam mulia.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh data ketenagakerjaan terbaru dari AS. Data yang dirilis Jumat (7/3/2026) menunjukkan jumlah pekerjaan di sektor non-pertanian atau nonfarm payrolls turun 92.000 pekerjaan bulan lalu. Angka tersebut berbanding terbalik dengan perkiraan ekonom yang sebelumnya memprediksi kenaikan sekitar 59.000 pekerjaan. Sementara itu, tingkat pengangguran AS naik menjadi 4,4%.

