MBG Dinilai Perlu Jadi Program Nasional Jangka Panjang, BGN Ungkap Alasannya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Badan Gizi Nasional (BGN) menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu ditetapkan sebagai program nasional jangka panjang yang tidak sekadar bersifat bantuan sosial, melainkan investasi berkelanjutan untuk pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sony Sonjaya menyebut, program serupa di sejumlah negara telah berjalan puluhan bahkan ratusan tahun. Jepang misalnya, telah mengimplementasikan program school meal lebih dari satu abad, sementara India memulainya sejak 1995, dan Brasil telah menjalankannya sekitar 40 tahun.
“Nah Indonesia meskipun dimulai tanggal 6 Januari 2025, nah ini dampaknya semua sudah merasakan. Bagaimana senyum ceria anak-anak dari Aceh sampai Papua, dari desa sampai metropolitan,” ucap Sony dalam acara MBG Talks yang berlangsung di Menara Kadin Indonesia, Jakarta, Jumat (27/2/2026).
Baca Juga
Anindya Buka Bersama Kadin Daerah, Bahas MBGnomics hingga Koperasi Desa Merah Putih
Atas dasar itu, dia menilai program ini justru perlu dipertahankan dan ditingkatkan kualitasnya. Apalagi, hadirnya MBG disebut membuat siswa menjadi lebih semangat belajar ke sekolah. Menurutnya, menghentikan MBG akan menjadi tanda tanya besar di tengah manfaat yang mulai dirasakan masyarakat.
“Kemarin saya datang ke Jakarta saja, di Jakarta nih anak-anak di Jakarta, mereka senang banget loh menerima MBG. Begitu saya sebutkan MBG, sudah mereka teriak-teriak. Dan mereka itu real ya, nggak direkayasa. Itulah dampak MBG,” beber dia.
Selain berdampak pada aspek gizi dan semangat belajar, MBG juga disebut mengubah pola pikir masyarakat terkait pengelolaan limbah pangan. Kekhawatiran awal mengenai potensi lonjakan food waste di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dinilai tidak terbukti.
“Pada kenyataannya, hampir 23.000 SPPG operasional belum ada isu-isu tentang penumpukan sampah makanan. Kenapa? Begitu sampah makanan dikembalikan ke SPPG itu diambil oleh para peternak untuk menjadikan pakan, bisa diolah menjadi bubuk organik cair, bisa diambil juga untuk pakan magot,” kata Sony.
Pemanfaatan maggot sebagai substitusi pakan ternak disebutnya bahkan mampu menekan biaya produksi hingga 30–40%. Skema ini dinilai tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru di tingkat lokal.
Lebih lanjut, dia juga menyoroti potensi ekonomi dari minyak jelantah yang dihasilkan SPPG. Berdasarkan data, setiap SPPG rata-rata menghasilkan sekitar 500 liter minyak jelantah per bulan.
“Jelantah ini kan ada dimana-mana, ada di restoran, ada di hotel dan masuk di rumah-rumah, di perumahan. Dan selama ini tidak terpikirkan jelantah ini k emana, jelantah ini masuk ke parit dan lain-lain, mencemari lingkungan. Tetapi dengan adanya SPPG, orang mulai aware bahwa 500 liter per bulan dari 1 SPPG ini satu potensi ekonomi yang baik. Ini membuka wawasan bagaimana meningkatkan perekonomian,” pungkasnya.

