Tantangan Baja RI: Didominasi Sektor Konstruksi hingga Dihajar Impor Murah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan kondisi terkini baja nasional yang masih menghadapi sejumlah tantangan dan kendala. Di antaranya adalah penggunaan atau konsumsi baja di dalam negeri yang masih didominasi oleh sektor kontruksi dan infrastruktur.
Berdasarkan data yang dipaparkan Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza, komposisi pengunaan baja untuk sektor konstruksi dan infrastruktur adalah sebanyak 77,1% dari total konsumsi, Sektor otomotif berada di posisi kedua dengan kontribusi 11,6%, disusul peralatan rumah tangga sebesar 3,3%.
"Secara agregat, konsumsi baja menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 5,2% pada tahun 2024 setelah sebelumnya mengalami kontraksi pada tahun 2020 karena pelambatan ekonomi," ucap Faisol saat rapat dengan Komisi VI DPR, Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Baca Juga
Wamenperin Faisol juga memaparkan, tingkat konsumsi baja per kapita Indonesia tahun 2025 masih relatif rendah, sekitar 60 kilogram per kapita, jauh di bawah rata-rata global, yaitu 217 kilogram per kapita, tertinggal dari produsen-produsen utama Korea, China, dan Jepang.
"Begitupun dengan utilisasi industri baja nasional, rata-rata mencapai 52,7% Ini mengindikasikan bahwa potensi ekspansi dan peningkatan yang signifikan masih tersedia ruang yang sangat besar," ungkapnya.
Industri baja juga mengalami berbagai hambatan lainnya, fasilitas produksi yang relatif tua dan kurang ramah lingkungan, hingga tingginya biaya energi dan logistik.
"Kesulitan bersaing dengan baja yang berasal dari impor, dari aspek harga maupun kualitas. Kelima, kontribusi baja, industri baja nasional terhadap investasi baru yang tumbuh belum optimal. Kemudian yang keenam, biaya energi dan logistik yang masih relatif tinggi, dan rendahnya harga impor yang menekan produk industri baja nasional kita," papar Faisol.

