PU Siapkan Rp 79 Miliar untuk Tangani Bendung dan Irigasi Pante Lhong Aceh
Poin Penting
|
BIREUEN, investortrust.id – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyiapkan anggaran sekitar Rp 79 miliar untuk menangani kerusakan Bendung dan Daerah Irigasi (DI) Pante Lhong di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, imbas banjir bandang November 2025.
"Anggaran tersebut untuk pemulihan jaringan irigasi dan area persawahan yang terdampak, meliputi rehabilitasi saluran rusak, normalisasi saluran, serta rehabilitasi lahan pertanian," kata Menteri PU Dody Hanggodo dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (2/1/2026).
Bendung DI Pante Lhong merupakan sumber utama penyediaan air irigasi bagi persawahan seluas 6.562 hektare (ha) melalui intake kiri. Berdasarkan hasil identifikasi awal Kementerian PU, bendung saat ini tidak dapat berfungsi optimal akibat endapan sedimen pada bangunan intake dan apron mercu.
Baca Juga
Tinjau Dampak Bencana di Bireuen, Prabowo Ungkap Banyak Sawah Rusak dan Bendungan Jebol
Kerusakan juga ditemukan pada tanggul kanan di bagian hulu bendung, serta adanya endapan sedimen pada trashrack, kantong lumpur, dan pembilas kantong lumpur. Kondisi tersebut diperparah oleh kejadian overtopping yang menyebabkan putusnya tanggul sungai di hulu dan berdampak pada tubuh bendung.
Dia mengatakan, penanganan Bendung dan Jaringan Irigasi DI Pante Lhong harus diawali dengan identifikasi dan penyusunan desain teknis agar penanganan dapat dilakukan secara tepat.
“Untuk DI ini harus diidentifikasi dan dibuatkan desain penanganannya dulu karena sungainya melebar sangat signifikan supaya bendung ini dapat tetap dimanfaatkan,” kata Dody.
Ia menambahkan, proses penanganan nantinya juga akan melibatkan skema padat karya. “Normalisasi saluran irigasi agar bisa mengalirkan air ke sawah-sawah,” jelas Dody.
Selain kerusakan bangunan utama bendung, hasil identifikasi menunjukkan kerusakan signifikan pada jaringan irigasi dan area persawahan DI Pante Lhong. Sejumlah saluran tertutup mengalami keruntuhan akibat genangan, serta hilangnya tanggul pada beberapa ruas saluran akibat limpasan air.
Endapan sedimen ditemukan pada saluran sekunder dan area persawahan dengan luas sawah terdampak sekitar 1.282 ha. Kondisi tersebut mengganggu distribusi air irigasi dan menurunkan fungsi layanan irigasi bagi petani.
Baca Juga
Terkait tindak lanjut penanganan, Dody menyampaikan bahwa identifikasi lanjutan dan penyusunan desain teknis akan dilakukan oleh Direktorat Bina Teknik Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PU. “identifikasi agar dapat diketahui seperti apa penanganan yang nantinya secara bertahap bisa dapat mengairi persawahan,” tutur Dody.

