Mengapa Batang Toru, Tapsel Banjir? Ini Penjelasan Ilmiahnya Menurut Agincourt (PTAR)
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Agincourt Resources (PTAR), anak usaha PT United Tractor Tbk (UNTR) yang merupakan grup Astra menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban banjir bandang dan longsor yang melanda Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel). Sumatra Utara (Sumut) pada Jumat (28/11/2025).
Perusahaan menegaskan bahwa analisis awal berbasis data lapangan tidak menunjukkan adanya kaitan antara operasional Tambang Emas Martabe milik PTAR dengan bencana yang terjadi di Desa Garoga, Tapanuli Selatan.
Manajemen PT Agincourt Resources (PTAR) menjelaskan bahwa informasi yang mengaitkan banjir bandang Garoga dengan aktivitas tambang merupakan kesimpulan prematur. "Berdasarkan telaahan internal, perusahaan menilai bahwa faktor cuaca ekstrem menjadi pemicu utama peristiwa ini," kata Agincourt dalam keterangannya, Rabu (3/12/2025).
PTAR menyampaikan bahwa Siklon Senyar memicu hujan dengan intensitas sangat tinggi di wilayah Tapanuli Selatan. Curah hujan tersebut mencapai level ekstrem yang secara statistik mendekati kejadian maksimum dalam setidaknya 50 tahun terakhir. Hujan turun merata di Sumatra bagian utara, termasuk kawasan hulu Hutan Batang Toru yang menjadi sumber utama aliran sungai di Kecamatan Batang Toru.
Baca Juga
Tidak Pernah Meleset, 11 Tahun Air Sisa Proses Tambang Martabe Selalu Memenuhi Baku Mutu
Bencana banjir bandang pertama kali terjadi di Desa Garoga yang berada di Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Garoga. Aliran banjir meluas ke sejumlah desa lain, seperti Huta Godang, Batu Horing, dan Aek Ngadol Sitinjak. "PTAR menjelaskan bahwa luapan air terjadi karena alur Sungai Garoga tidak mampu menampung massa air dan material kayu yang tersumbat di dua jembatan utama di wilayah tersebut," kata PTAR.
Sumbatan kayu di Jembatan Garoga I dan Jembatan Anggoli mencapai titik kritis pada Selasa (25/11/2025) sekitar pukul 10.00 pagi. Tekanan air kemudian mengubah alur sungai secara tiba-tiba, membuat dua anak Sungai Garoga bergabung dan mengarahkan arus deras ke permukiman warga. Puluhan orang dilaporkan meninggal dunia dan puluhan lainnya masih hilang. Jumlah korban diperkirakan bertambah dalam beberapa hari berikutnya.
PTAR menegaskan bahwa operasi tambang berada di sub DAS Aek Pahu yang secara hidrologis terpisah dari DAS Garoga. Meskipun kedua aliran bertemu di hilir, titik pertemuannya berada jauh dari Desa Garoga. Dengan demikian, aktivitas PTAR di Aek Pahu tidak berkaitan dengan bencana banjir bandang di Garoga.
Perusahaan juga mencatat bahwa meskipun terdapat titik longsor di wilayah Aek Pahu, tidak ditemukan fenomena banjir bandang atau aliran lumpur besar yang biasanya menjadi pemicu sumbatan material. Sebagian besar dari 15 desa lingkar tambang yang berada di sekitar Aek Pahu tidak mengalami dampak signifikan dan saat ini berfungsi sebagai pusat pengungsian.
Selain itu, kata PTAR, pemantauan udara menggunakan helikopter menunjukkan adanya sejumlah longsoran di tebing-tebing hulu Sungai Garoga. Longsoran tersebut menjadi sumber utama material lumpur dan kayu yang ditemukan di sepanjang sungai. "PTAR menekankan bahwa temuan ini masih bersifat indikatif dan diperlukan kajian lebih menyeluruh untuk memastikan seluruh faktor penyebab," kata manajemen.
Sejak hari pertama, PTAR menjadi bagian dari tim tanggap darurat bersama pemerintah daerah, TNI-Polri, dan pemangku kepentingan lainnya. Perusahaan melakukan operasi pencarian dan penyelamatan, membuka akses jalan, serta mendirikan posko pengungsian yang dilengkapi tenda darurat, dapur umum, dan fasilitas klinik untuk masyarakat.
Baca Juga
PTAR menyatakan bahwa pihaknya selalu mematuhi peraturan pemerintah, termasuk ketentuan terkait perlindungan lingkungan. Operasional Tambang Emas Martabe berada di kawasan dengan status areal penggunaan lain (APL). Perusahaan menegaskan komitmennya pada konservasi air, udara, tanah, serta keanekaragaman hayati melalui kerja sama dengan berbagai institusi nasional dan internasional.
PTAR memahami tingginya perhatian publik atas bencana ini. Perusahaan mendorong semua pihak untuk mengedepankan komunikasi yang akurat guna menghindari narasi yang menyesatkan dan berpotensi mengganggu proses pemulihan. PTAR juga menyatakan dukungan terhadap kajian independen dan komprehensif untuk memastikan pemahaman yang tepat tentang risiko bencana di masa mendatang.

