Tiga Strategi Besar Toyota di Japan Mobility Show 2025: Menjadi “Best in Town” untuk Dunia
Poin Penting
|
TOKYO, Investortrust.id - Toyota kembali menegaskan arah strategisnya di panggung internasional melalui ajang Japan Mobility Show 2025 yang digelar di Tokyo Big Sight, kawasan Odaiba, Tokyo, pada 29 Oktober 2025. Dalam kesempatan tersebut, Jap Ernando Demily, Marketing Director PT Astra Motor, memaparkan tiga strategi besar Toyota dalam menghadirkan produk otomotif yang dapat diterima dan relevan bagi masyarakat di seluruh dunia.
Tiga strategi tersebut menjadi dasar filosofi Toyota dalam menjalankan bisnis globalnya, yaitu based in town, customer first, dan doing by now. Dalam pernyataannya, Jap Ernando menjelaskan bahwa konsep pertama, based in town, menjadi landasan utama Toyota dalam menghadirkan produk dan solusi mobilitas.
“Toyota secara value, secara basic concept itu tetap mempertahankan tiga hal. Yang pertama adalah selalu based in town. Based in town maksudnya apa? Setiap kali kita hadir di manapun, memberikan solusi yang adaptif terkait kebutuhan customer, kebutuhan negara, kebutuhan bangsa, infrastruktur, dan sumber energi,” ujarnya.
Ia mencontohkan kesiapan Toyota mendukung kebijakan energi nasional dengan menyesuaikan produk terhadap perubahan bahan bakar, termasuk kesiapan kendaraan Toyota untuk bioethanol hingga level E20. “Kita memang berusaha untuk support, bukan cuma jadi market, tapi membangun industri bersama-sama,” tambahnya.
Secara lebih luas, konsep based in town juga mencerminkan komitmen Toyota dalam membangun ekosistem industri di setiap negara tempatnya beroperasi. Menurut Jap Ernando, Toyota tidak hanya menghadirkan produk untuk pasar, tetapi juga membangun industri dari hulu ke hilir.
“Kalau bapak ibu perhatikan, dimanapun Toyota berada, selalu dibangun industrinya. Manufacturer dibangun, nggak berhenti di manufacturer, tapi local supplier. First tier, second tier, employment rate, semua dibangun,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa di Indonesia sendiri, Toyota memiliki lebih dari 400 supplier yang tergabung dalam jaringan produksinya, dan lebih dari 300 ribu orang bekerja di dalam ekosistem grup Toyota.
Strategi kedua yang menjadi fondasi utama Toyota adalah customer first. Filosofi ini menekankan bahwa setiap produk Toyota dikembangkan berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat di setiap wilayah.
“Konsep Toyota adalah selalu customer first. Bagaimana, sekali lagi contohnya multi-pathway. Kenapa Toyota mengusung konsep multi-pathway? Karena kita percaya dari dunia, dari satu negara ke negara yang lain, bahkan di konteks Indonesia, dari kota satu ke kota yang lain, kebutuhan akan mobility itu masih berbeda-beda.”
Baca Juga
Kementerian Investasi Bocorkan Toyota Mau Bangun Pabrik Etanol di Indonesia
Sebagai contoh, kebutuhan kendaraan di daerah-daerah seperti Jakarta tentu berbeda dengan di wilayah seperti Kalimantan atau Nusa Tenggara Timur. “Coba bayangin kalau di NTT kita paksa BEV, udah gak mungkin. Karena itu kita provide produknya komplit banget,” ujarnya.
Toyota, lanjut Jap Ernando, berusaha menghadirkan beragam pilihan kendaraan yang sesuai dengan kondisi sosial, ekonomi, dan infrastruktur lokal—mulai dari kendaraan diesel seperti Innova Reborn, kendaraan hybrid, hingga Battery Electric Vehicle (BEV).
Sementara itu, strategi ketiga Toyota adalah doing by now atau bergerak lebih cepat. “Zaman kan perubahannya begitu cepat. Jadi kalau memang diperlukan adjustment, kita akan berubah lebih cepat,” tegas Jap Ernando.
Ia menjelaskan bahwa filosofi ini mendorong Toyota untuk tidak hanya bereaksi terhadap perubahan, tetapi juga mengambil langkah nyata dan cepat untuk beradaptasi. “Karena itu yang diharapkan adalah selalu segera action, kita akan bergerak lebih cepat untuk berusaha menjadi best in town di setiap negara, di setiap kota, dan memberikan yang terbaik untuk customer,” tambahnya.
Tiga strategi besar ini menjadi dasar bagi Toyota dalam menghadirkan inovasi di panggung Japan Mobility Show 2025, yang mengusung tema “A unique opportunity to explore the future of mobility” atau “Kesempatan unik untuk menjelajahi masa depan mobilitas.”
Corolla Concept
DI ajang Japan Mobility Show ini, Toyota kembali menarik perhatian publik otomotif global melalui kehadiran Corolla Concept yang akan diperkenalkan dalam pameran. Mobil konsep ini menjadi representasi arah desain dan teknologi masa depan Toyota, yang menggabungkan karakter advanced dan futuristic dalam satu wujud.
Menurut Reza Kusumaatmadja, Kepala Divisi Marketing PT Toyota Astra Motor, Corolla Concept masih berstatus konsep dan belum memasuki tahap produksi massal. “Corolla Concept ini masih jadi konsep dan belum secara mass production-nya. Untuk waktu reveal-nya memang belum bisa kami disclose kapan, tapi yang ingin disampaikan di sini adalah advanced dan futuristic menjadi satu,” ujarnya. Dari sisi tampilan, model ini tampil lebih sleek dengan desain depan yang menggunakan hammerhead design, ciri khas Toyota yang ditandai dengan lampu berbentuk siku tajam.
“Kalau Lexus kita bilang spindle grill, kalau Toyota kita bilang hammerhead,” tambah Reza.
Secara visual, Corolla Concept membawa pendekatan desain yang lebih dinamis dan modern. Reza menjelaskan bahwa mobil ini memiliki karakter semi-coupe yang memberikan kesan sporty dari luar, namun tetap mengutamakan fungsi dan kenyamanan di dalam kabin.
“Dari sisi modelnya kita bilang di sini kayak semi coupe. Itu yang menjadikan bahwa si model ini lebih sporty, tapi dalamnya secara fungsional juga dapat,” jelasnya. Desain ini menegaskan bahwa Toyota berupaya menghadirkan mobil yang tidak hanya menarik secara estetika, tetapi juga memiliki nilai praktis tinggi sesuai kebutuhan konsumen masa kini yang mengutamakan efisiensi dan gaya hidup dinamis.
Untuk sektor performa dan teknologi penggerak, Corolla Concept menjadi simbol penerapan strategi multi-pathway Toyota, yang memberikan fleksibilitas pada sistem tenaga sesuai kondisi energi di setiap negara. Reza menegaskan bahwa model ini sedang dalam tahap studi untuk mendukung berbagai jenis powertrain — mulai dari Internal Combustion Engine (ICE), Hybrid Electric Vehicle (HEV), Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), hingga Battery Electric Vehicle (BEV).
“Mobility di sini adalah pertama, pemilihan dari powertrain-nya. Karena dari masing-masing country punya energi yang berbeda-beda,” ujarnya. Ia mencontohkan, di Brasil sudah tersedia bahan bakar etanol 100 persen, sementara negara dengan kapasitas listrik tinggi lebih cocok dengan kendaraan listrik penuh. Di sisi lain, beberapa negara masih mengandalkan hybrid karena keterbatasan infrastruktur. “Di situlah mobility Toyota ada, sesuai dengan kebutuhan di masing-masing country,” ujarnya.
Japan Mobility Show
Pameran yang berlangsung dari 30 Oktober hingga 9 November 2025 ini menampilkan kendaraan penumpang, komersial, dan sepeda motor dari berbagai merek besar dunia, termasuk deretan mobil konsep dan teknologi masa depan Toyota seperti FT-Se, Crown, dan FJ. Dari total 16 produk yang ditampilkan Toyota, 14 di antaranya merupakan kendaraan konsep, sementara dua lainnya, FJ dan Crown, sudah siap menjadi produk massal.
Melalui ketiga strategi ini, Toyota berupaya mempertahankan relevansi globalnya di tengah percepatan perubahan industri otomotif dunia. Pendekatan based in town memastikan keberlanjutan industri lokal, customer first menjamin relevansi produk di setiap pasar, dan doing by now menegaskan kecepatan adaptasi Toyota terhadap tren masa depan. Seperti disampaikan Jap Ernando, Toyota ingin agar setiap mobil yang dihadirkan menjadi cerminan kebutuhan pelanggan dan semangat inovasi yang berkelanjutan.

