Pertamina Dorong Dekarbonisasi Aviasi Lewat 'Sustainable Aviation Fuel'
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pertamina Patra Niaga menyatakan komitmennya dalam mendorong transformasi energi di sektor penerbangan nasional melalui pengembangan sustainable aviation fuel (SAF). Bukan hanya sebagai bahan bakar, SAF juga diharapkan mampu menggerakkan ekonomi sirkular.
SVP Business Development PT Pertamina (Persero) Wisnu Medan Santoso menjelaskan bahwa pengembangan SAF telah menjadi bagian dari strategi jangka panjang Pertamina untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung dekarbonisasi sektor aviasi.
Baca Juga
Pertamax Green, SAF, hingga B40 Jadi Andalan Pertamina Wujudkan Energi Hijau
“Kami memandang SAF bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi solusi strategis untuk menggerakkan ekonomi sirkular. Indonesia memiliki potensi besar dari limbah minyak jelantah (used cooking oil/UCO), dan Pertamina berkomitmen memanfaatkannya menjadi energi bersih bernilai tinggi,” ujar Wisnu, dikutip Senin (20/10/2025).
Wisnu menyampaikan, Pertamina telah melakukan penelitian dan pengembangan SAF selama lebih dari satu dekade, mulai konversi bahan baku, proses penyulingan, hingga sertifikasi kualitas produk. SAF Pertamina telah memenuhi standar internasional yang menjadi acuan dalam industri penerbangan global.
“Produk kami telah melewati fase uji coba penerbangan bersama Pelita Air dengan hasil yang sangat positif. Tanpa perlu modifikasi signifikan pada mesin pesawat, SAF kami menunjukkan performa yang stabil, aman, dan efisien,” ujar dia.
Airbus Indonesia menyatakan dukungannya terhadap upaya Pertamina dalam mempercepat pengembangan SAF di Tanah Air. Senior Manager Business Growth Airbus Indonesia Ridlo Akbar menegaskan, saat ini SAF merupakan solusi paling realistis untuk mendukung dekarbonisasi industri aviasi.
Baca Juga
Pertamina Patra Niaga Pacu Pengembangan SAF, Siap Jalankan Mandatori Penerbangan Rendah Emisi 2040
“Sebagai drop-in fuel, SAF dapat digunakan langsung tanpa perlu modifikasi pesawat atau infrastruktur bandara. Secara teknis, SAF mampu menurunkan emisi karbon hingga 80% dibandingkan bahan bakar fosil, menjadikannya langkah signifikan menuju penerbangan rendah emisi,” ucap Ridlo.
Ridlo juga menambahkan bahwa seluruh pesawat Airbus mampu terbang dengan penggunaan SAF hingga 50% campuran dan menargetkan mampu terbang menggunakan 100% SAF pada tahun 2030.
“Kami percaya dengan kolaborasi erat antara produsen bahan bakar, produsen pesawat, regulator dan pembuat kebijakan, serta operator maskapai, SAF dapat menjadi standar baru penerbangan global,” ujarnya.

