AHY Dorong Teknologi 'Waste to Energy' Jadi Solusi Sampah Perkotaan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mendorong percepatan penerapan teknologi waste to energy sebagai solusi pengelolaan sampah di kota-kota besar yang setiap hari menghasilkan ribuan ton limbah.
Menurutnya, Kota Jakarta memproduksi 7.000 – 8.000 ton sampah per hari sedangkan kota besar lain, seperti Surabaya, Medan, dan Bandung menghasilkan sekitar 1.000 – 1.500 ton per hari. Volume sampah yang tinggi tersebut, kata AHY, menuntut sistem pengelolaan yang menyeluruh dari hulu ke hilir.
“Penanganan sampah tidak bisa terjebak pada satu fase. Semua tahap, dari pengurangan, pemilahan, hingga pengolahan, harus berjalan beriringan,” kata AHY saat konferensi pers acara Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2025 di Jakarta, Jumat (10/10/2025).
Ia menjelaskan, pengurangan sampah perlu dimulai dari sumbernya, baik rumah tangga maupun industri, perlu dilakukan melalui edukasi, sosialisasi, dan penegakan aturan. Selain itu, pemilahan di titik pengumpulan dapat melibatkan masyarakat untuk menggerakkan perputaran ekonomi.
“Beberapa daerah sudah berhasil mengembangkan circular economy dengan melibatkan masyarakat, terutama ibu-ibu rumah tangga, yang mendapatkan penghasilan tambahan,” tutur AHY.
Namun, AHY menegaskan, untuk kota-kota metropolitan dengan beban sampah besar, dibutuhkan penerapan teknologi canggih, seperti incinerator agar limbah dapat dikonversi menjadi energi terbarukan.
“Kalau sudah pada titik yang luar biasa, penanganannya harus menggunakan teknologi. Kita bukan hanya mengikis, tetapi juga mengonversi menjadi energi yang bermanfaat. Di sinilah muncul peluang baru dan potensi bisnis,” lugasnya.
Kemenko IPK, melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU), akan terus mengawal pengembangan fasilitas pengolahan sampah di berbagai daerah. Ketua Umum Partai Demokrat itu pun menekankan pentingnya sinergi kebijakan lintas kementerian dan pemerintah daerah agar proyek-proyek pengolahan sampah dapat berjalan optimal.
“Kami akan kawal agar para gubernur, bupati, dan wali kota memiliki visi dan kebijakan yang sejalan,” kata AHY.
Tak sampai di situ, AHY menyoroti pentingnya pembiayaan sebagai faktor penentu keberhasilan proyek waste to energy. Skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU) disebut menjadi salah satu opsi yang dapat mempercepat pembangunan dan penerapan teknologi tersebut. “Kalau tidak ada pendanaan, sampai kapan pun teknologi yang mumpuni tidak akan hadir,” ucapnya.
Baca Juga
Pemerintah Siapkan 50 Kota Baru untuk Pacu Pertumbuhan Ekonomi 8%
Dikatakan AHY, pengelolaan sampah modern bukan hanya soal infrastruktur, tetapi keberpihakan terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. “Kalau tujuan kita mengurangi sampah yang menjadi sumber polusi dan gangguan kesehatan, maka ini seharusnya menjadi prioritas,” imbuhnya.
Sebelumnya, CEO Danantara Indonesia Rosan Perkasa Roeslani, mengungkap dalam waktu dekat pihaknya akan meluncurkan proyek waste-to-energy atau pengelolaan sampah menjadi listrik. Ia mengatakan proyek itu akan diluncurkan di 33 kota seluruh Indonesia.
Dari total 33 kota tersebut, Danantara telah mengantongi 10 kota prioritas, yang direkomendasikan berdasarkan asesmen Kementerian Lingkungan Hidup (LH). Adapun dari 10 kota tersebut, di antaranya Tangerang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Bali, Makassar, dan lainnya.
“Program ini sangat penting karena menunjukkan komitmen kita. Dampaknya positif tidak hanya dalam penyediaan listrik, tetapi juga bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat,” kata Rosan dalam pembukaan agenda ISF 2025 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jumat (10/10/2025).
Rosan menyebut proyek ini direncanakan akan diluncurkan pada awal November 2025. Danantara juga direncanakan akan membuka proses tender atau lelang kepada calon investor yang tertarik terhadap proyek prioritas tersebut.
Ia meyakini, proyek waste to energy tidak akan berjalan tanpa adanya dukungan multipihak, baik dari dalam maupun luar negeri. “Harapannya, 2 tahun dari sekarang, sebagian besar sampah di kota-kota besar sudah dapat diubah menjadi listrik sekaligus menciptakan lapangan kerja baru bagi Indonesia,” ujar dia.
Baca Juga
Danantara Bakal Investasi Rp 91 Trilliun di Proyek Sampah Jadi Listrik di 33 Kota
Proyek waste to energy Senilai Rp 91 Triliun
Rosan mengklaim saat ini proyek waste to energy telah menarik sejumlah investor yang datang dari dalam dan luar negeri. Ia menuturkan calon investor datang dari sejumlah negara seperti China, Korea Selatan, Belanda, Jerman, Jepang, Australia, Singapura, serta Malaysia. “Jadi ketertarikannya sih lumayan tinggi ya,” kata Rosan saat ditemui awak media di sela-sela agenda ISF 2025.
Ia menekankan proyek waste to energy yang akan diimplementasikan di 33 kota seluruh Indonesia, membutuhkan angka investasi sebesar Rp 91 triliun.
Sebelum mengeksekusi di 33 kota, Rosan menjelaskan kembali bahwa proyek ini akan dimulai di 10 kota prioritas terlebih dahulu. “Kita mulai dengan 10 (kota) pertama karena baru kemarin oleh Kementerian LH yang melakukan asesmen dari segi kesediaan sampahnya dan juga dari segi kesediaan airnya,” ungkap Rosan.

