Pengamat Sebut Truk Tambang China Kian Menggerus Dominasi Jepang
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Persaingan ketat tengah terjadi di pasar kendaraan niaga tambang. Truk asal Jepang yang selama puluhan tahun menguasai pasar kini mulai mendapat tekanan dari produk asal China yang menawarkan harga lebih terjangkau.
Pengamat otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus menilai tren ini tak lepas dari kondisi industri tambang yang semakin sensitif pada masalah harga. “Selama ini yang menikmati pasar kendaraan niaga di kawasan pertambangan itu barang dari Jepang. Produk mereka harganya cukup tinggi sehingga semakin memberatkan pelaku bisnis tambang,” jelasnya kepada investortrust.id, Selasa (23/9/2025).
Menurut Yannes, ketika harga komoditas tambang, seperti batubara, mengalami penurunan, aktivitas pertambangan ikut lesu. Hal ini membuat pelaku usaha lebih berhati-hati dalam melakukan investasi, termasuk dalam pembelian armada kendaraan. “Pasar tersebut semakin price sensitive. Di sinilah produk China masuk,” ujarnya.
Truk tambang asal China, lanjut Yannes, kini hadir dengan kualitas yang makin baik serta garansi purna jual yang kompetitif. Kombinasi faktor tersebut membuat produk asal Negeri Tirai Bambu semakin diterima, terutama karena harga jualnya jauh lebih murah dibanding kompetitor asal Jepang.
Sepanjang 2024, impor truk utuh (CBU) dari China mencapai 13.669 unit dengan nilai sekitar US$ 647 juta, melonjak 76% dibanding tahun sebelumnya. Tren ini berlanjut pada semester I 2025, dengan volume impor sudah 7.794 unit senilai US$ 350 juta. Angka tersebut setara dengan sepertiga penjualan truk domestik nasional yang hanya 27.980 unit dalam periode yang sama.
Baca Juga
Sementara itu, data Gaikindo mencatat penjualan truk domestik Januari-Juli 2025 turun 19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penjualan ritel juga anjlok 12%, menandakan tekanan nyata terhadap pemain Jepang yang selama ini mendominasi.
Tak hanya menekan penjualan, arus masuk truk impor China juga berdampak ke industri karoseri dalam negeri. Asosiasi karoseri melaporkan produksi bak truk tambang menurun hingga 50%, karena truk CBU China masuk sudah dalam kondisi utuh tanpa perlu tambahan karoseri lokal.
Yannes pun menegaskan pergeseran ini menjadi sinyal penting bagi Agen Pemegang Merek (APM) otomotif Jepang yang selama ini dominan. Tanpa penyesuaian strategi harga dan nilai tambah, dominasi mereka di pasar kendaraan tambang Indonesia bisa terus tergerus oleh kompetitor baru.

