Dorong Transisi Energi, Telkom Grup (TLKM) Bidik Lebih dari 35 Ribu REC Tahun Depan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menargetkan pembelian lebih 35.000 Renewable Energy Certificate (REC) pada 2026 untuk memperkuat langkah menuju net zero emission (NZE) 2060.
VP Sustainability Telkom, Gunawan Wasisto Ciptaning Andri menyampaikan, pembelian REC akan terus berlangsung hingga 2040. Hal ini sejalan dengan ketersediaan energi terbarukan dari PT PLN (Persero) maupun PT Pertamina (Persero) yang saat ini belum mencukupi kebutuhan pasar transisi energi baru terbarukan (EBT).
“Masih memungkinkan (membeli REC lebih dari 35.000 unit). Kalau secara planning kami, itu akan terus meningkat,” ungkap Gunawan kepada investortrust.id di Hotel JW Marriot, Kuningan, Jakarta, Selasa (23/9/2025).
Telkom sebelumnya telah membeli 35.067 unit Renewable Energy Certificate (REC) dari PT Energi Manajemen Indonesia (PLN EMI), sebagai langkah strategis menuju target NZE Indonesia 2060.
Setelah 2040, lanjut Gunawan, penggunaan REC tidak lagi relevan karena pasokan listrik berbasis EBT dari PLN maupun Pertamina diperkirakan semakin luas dan dapat langsung diakses.
“Bedanya kalau REC itu transferable certificate. Source-nya ada di mana, kita ada di mana. Namun, begitu nanti pembangkit listrik dari PLN, Pertamina, dan sebagainya sudah tersebar, kita bisa langsung direct source renewable,” jelas dia.
Gunawan menerangkan, kontribusi REC terhadap target NZE masih relatif kecil, yakni sekitar 20%–50% dari total investasi mandiri perseroan. “Sisanya, sekitar 80%, bergantung pada penyedia energi besar (PLN atau Pertamina),” tutur dia.
Tak hanya itu, kata Gunawan, jika penyedia energi utama tidak dapat memenuhi targetnya, maka porsi investasi mandiri Telkom berpotensi ditingkatkan dengan dukungan insentif dari pemerintah.
“Kalau misalnya great company ternyata tidak bisa merealisasikan targetnya, nah pasti pemerintah akan push kami (Telkom) akhirnya. 'Ini 20% bisa ditingkatkan sampai berapa nih?' Nah itu yang akhirnya kita butuh investment tambahan, tetapi tentunya butuh dukungan dari pemerintah juga, insentifnya ada enggak?” pungkas dia.

