KTB: Zero-ODOL Jadi Tantangan Sekaligus Peluang Bagi Industri Kendaraan Niaga
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Aturan Zero-Over Dimension Over Loading (Zero-ODOL) dipandang sebagai tantangan sekaligus peluang bagi industri kendaraan niaga. Hal ini disampaikan Sales and Marketing Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB), Aji Jaya, yang menilai transisi regulasi akan memengaruhi strategi bisnis para pengusaha logistik dan transportasi.
Menurut Aji, pada tahap awal kebijakan ini memang menimbulkan resistensi dari sebagian konsumen. Banyak pelaku usaha yang masih berhitung dan menahan diri untuk berinvestasi, sambil menunggu kepastian implementasi penuh.
“Transisi selalu menjadi tantangan. Di awal, wajar jika konsumen belum bisa menerima begitu saja aturan baru,” ujarnya usai peluncuran Fighter X FM65F Tractor Head 4x2 di Kantor KTB, Jakarta Timur, Jumat (19/9/2025).
Meski begitu, Aji menegaskan bahwa Zero-ODOL berpotensi membuka peluang pasar baru dalam jangka panjang. Jika sebelumnya pengusaha mengandalkan satu unit kendaraan yang dioperasikan melebihi kapasitas, maka setelah kebijakan berlaku mereka mungkin harus menambah armada.
“Kalau tadinya satu mobil overload, ke depan bisa jadi perlu dua unit agar sesuai regulasi. Itu tentu bisa membuka peluang bagi penjualan kendaraan baru,” ungkapya.
Baca Juga
Incar Sektor Logistik, Mitsubishi Fuso Rilis Fighter X FM65F Tractor Head 4x2
Di satu sisi, implementasi kebijakan yang kini diundur hingga 2027 membuat dampaknya belum terasa signifikan. Sejumlah konsumen logistik sudah mulai bersiap, sementara sektor lain seperti tambang dan perkebunan masih menunggu kepastian.
Aji menyebut fase transisi ini menjadi krusial karena pelaku usaha perlu menyesuaikan model bisnis. “Ada yang menahan diri, ada juga yang sudah mengubah konsep operasionalnya. Proses ini memang butuh waktu,” tambahnya.
KTB tetap pede 'market share' 40%
Dari sisi penjualan, KTB mengakui pasar kendaraan niaga nasional sedang menghadapi tekanan. Data Gaikindo menunjukkan penjualan Januari–Agustus 2025 turun dibanding periode sama tahun lalu.
Dengan kondisi tersebut, Aji menilai sulit mengejar angka penjualan setahun penuh agar bisa setara dengan 2024. “Tinggal tiga bulan lagi, challenging sekali untuk menutup gap delapan bulan pertama,” katanya saat ditanya oleh investortrust.id.
Meski begitu, KTB tetap optimistis menjaga pangsa pasar di level 40%. Dengan pengalaman 55 tahun di Indonesia serta kekuatan pada layanan aftersales, perusahaan yakin bisa memanfaatkan momentum regulasi Zero-ODOL sebagai peluang pertumbuhan di masa depan.

