Bagikan

Kenapa Kertajati Susah Jadi Magnet MRO? Ini Alasannya

Poin Penting

Pemerintah berencana mengembangkan Bandara Kertajati menjadi kawasan Aeropark berfasilitas MRO 1.800 hektare.
Alvin Lie menilai tantangan besar ada pada SDM engineer kelas dunia, captive market, serta fasilitas penunjang mekanik.
Pengalaman buruk layanan Kertajati membuat pelaku usaha kargo enggan kembali.

JAKARTA, investortrust.id — Pengamat penerbangan, Alvin Lie menilai strategi pemerintah mengembangkan Bandara Kertajati, Majalengka, sebagai fasilitas perawatan pesawat (maintenance, repair, and overhaul/MRO) akan menghadapi banyak tantangan.

Menurut Alvin, perusahaan besar, seperti PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk alias GMF AeroAsia sudah melakukan investasi besar di Bandara Soekarno-Hatta, sementara Lion Air Group telah menanamkan modal di Batam Aero Technic (BAT).

“Mungkin PT Dirgantara Indonesia (PTDI), tetapi siapa yang memberikan MRO pada PTDI? Lagi-lagi, MRO itu juga enggak mudah, karena untuk menjadi MRO yang standar internasional, seperti GMF dan Lion kan harus mendatangkan engineer-engineer yang top class juga,” kata Alvin saat ditemui di kantor Boeing Indonesia, Menara Astra, Jakarta, Rabu (27/8/2025).

Baca Juga

Ini Strategi AHY "Menghidupkan" Bandara Kertajati yang Mati Suri 

Ia menambahkan, penempatan tenaga ahli di Kertajati juga terkendala fasilitas pendukung. Para mekanik, kata Alvin, mempertanyakan akses pendidikan, layanan kesehatan, hingga hiburan jika dipindahkan ke wilayah tersebut. “Kalau ditempatkan di Kertajati, anak istri atau suami tetap di Jakarta. Komutingnya bagaimana?” ujarnya

Pengamat penerbangan, Alvin Lie. Investortrust/Rizqi Putra Satria (Rizqi Putra Satria)
Source: Investortrust

Alvin menyebutkan, dari sisi captive market maupun dampak ekonomi, pengembangan MRO di Kertajati juga belum diperhitungkan matang. Ia mencontohkan, saat Bandara Halim ditutup 9 bulan untuk revitalisasi, operasional kargo sempat dialihkan ke Kertajati. Namun, para pelaku usaha kargo memilih untuk tidak kembali ke Bandara Kertajati karena pelayanannya yang kurang baik.

“Seandainya saat itu pelayanannya bagus, Kertajati bisa menjadi captive market. Namun, karena trauma dengan pelayanan buruk, mereka (pelaku usaha) tidak mau kembali kesana (Bandara Kertajati),” jelas Alvin.

Baca Juga

Sidak di Soetta dan Kertajati, Pemerintah Gagalkan Pemberangkatan Pekerja Migran Nonprosedural

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkapkan, pemerintah berencana mengembangkan Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka yang belum optimal alias mati suri menjadi kawasan Aeropark.

Menko AHY menjelaskan, bandara seluas 1.800 hektare (ha) itu akan disempurnakan dengan kelengkapan fasilitas maintenance, repair and overhaul (MRO).

“Jadi, bagaimana (Bandara Kertajati) ini menjadi sebuah kawasan ekosistem yang terintegrasi untuk menjadi hub industri penerbangan. Nah, ini membutuhkan perencanaan matang di berbagai aspek, tetapi ada opsi atau ada pilihan-pilihan kebijakan berikutnya. Kertajati bukan hanya menjadi bandara saja, tetapi bisa untuk fasilitas maintenance, repair and overhaul untuk pesawat atau helikopter,” ungkap AHY di Bekasi, Jawa Barat, Kamis (6/3/2025) lalu.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024