Kenapa Industri Gim Indonesia Masih Bergantung pada 'Publisher' Asing?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Industri gim Indonesia dinilai masih bergantung pada pendanaan dari publisher luar negeri. CEO dan Co-Founder Agate, Shieny Aprilia menyebut jumlah publisher lokal masih sangat sedikit sehingga studio gim Tanah Air masih mengandalkan mitra global.
Menurutnya, tren pendanaan saat ini juga tengah melambat. Setelah ledakan investasi di era pandemi Covid-19, industri gim kini mengalami normalisasi karena banyaknya judul yang masuk pasar.
Baca Juga
Menparekraf Sandiaga Jajaki Kerja Sama dengan Industri Gim dengan 11 Bit Studios di Polandia
“Kalau kita bisa bikin gim bagus dan pitch konsepnya kuat, selalu ada jalan untuk dapat funding,” kata Shieny di Jakarta, Selasa (26/8/2025).
Dari sisi model bisnis, gim premium dianggap memiliki risiko lebih kecil. Pasalnya, konsumen sudah membayar di awal, sehingga dana langsung masuk ke pengembang.
Namun, gim gratis atau free-to-play menawarkan potensi keuntungan yang jauh lebih besar.
“High risk, high return,” jelasnya, sembari menambahkan biaya server dan akuisisi pengguna jadi tantangan besar.
Biaya produksi gim juga sangat bervariasi, mulai ratusan juta rupiah hingga miliaran dolar AS. Ia mencontohkan GTA V yang kabarnya menelan biaya lebih dari US$ 1 miliar.
Meski begitu, Shieny menyebut bahwa setiap segmen punya pasarnya sendiri. “Dari gim kecil sampai skala besar, semua tetap ada marketnya,” kata dia.
Di tengah kondisi ekonomi global yang tidak stabil, ia melihat peluang untuk studio Indonesia. Biaya hidup yang lebih rendah membuat pengembang lokal bisa menawarkan harga lebih kompetitif. “Justru saat banyak studio global kesulitan, Indonesia bisa ambil kesempatan,” ucapnya.
Baca Juga
Jadi Pahlawan Ekonomi, Gim Lokal Bisa Raup Rp 30 Triliun Pasar Indonesia?
Menurutnya, ini momentum bagi studio dalam negeri untuk unjuk gigi.
Diketahui pasar gim Indonesia diprediksi terus tumbuh 8–9% per tahun. Selain itu, Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) juga menyebut sektor gim jadi salah satu subsektor dengan pertumbuhan tercepat, masuk 5 besar penyumbang ekonomi kreatif Indonesia bersama kuliner, fesyen, musik, dan kriya.

