Anindya Bakrie: Sektor Pertanian dan Industri Halal Jadi Motor Baru Perekonomian Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie menegaskan pentingnya penguatan sektor pertanian dan industri halal sebagai motor baru ekonomi Indonesia selain usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Kedua sektor ini lebih dekat dengan masyarakat dan mampu menciptakan pertumbuhan inklusif,” kata Anindya dalam Rakornas Kadin Indonesia bidang Koperasi dan UMKM 2025, di Jakarta, Rabu (20/8/2025).
Menurut Anindya, peluang besar juga ada di sektor hilirisasi pertanian. Selama ini, hilirisasi terlalu berfokus pada mineral kritis dan tambang.
Baca Juga
Prabowo: Inovasi Pertanian Brasil Bisa Jadi Contoh untuk Indonesia
“Justru yang bisa menggerakkan perekonomian adalah pertanian, termasuk di dalamnya peternakan dan perikanan. Agrikultur mampu menciptakan rantai pasok baru yang lebih merata,” ujar dia.
Di sisi lain, kata bos Bakrie & Brothers tersebut, pasar halal global adalah peluang yang harus dimanfaatkan Indonesia. Isu halal selalu muncul dalam setiap pertemuan bisnis internasional yang ia hadiri.
“Setiap saya keluar negeri, jangankan ke ASEAN, ke Rusia pun bicaranya kita pengen masuk kepada bank halal. Ke Brazil sama juga. Bahkan, presiden Peru datang ke kantor Kadin khusus untuk bicara mengenai produk halal,” papar Anin.
Anindya menegaskan, UMKM, hilirisasi pertanian, dan industri halal merupakan tiga sektor yang perannya wajib ditingkatkan.
“Kadin sekarang harus fokus di tempat-tempat yang sebelumnya tidak terlalu fokus. Kita kembangkan UMKM, koperasi, membuka pasar halal, lalu hilirisasi di bidang pertanian,” tegas Anin di depan ratusan anggota Kadin pusat dan daerah.
Baca Juga
Ketum Kadin Anindya: Indonesia Dilirik Jadi Pusat Sertifikasi Produk Halal oleh Peru
Selain itu, Anindya Bakrie menyinggung peran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) dalam mendorong ekonomi kerakyatan.
BUMN, menurut Anindya, perlu diarahkan sebagai katalisator, bukan sekadar pemain besar nasional.
“Bagaimana Danantara berbeda dengan sebelumnya, BUMN yang bekerja untuk kepentingan sinergi BUMN bisa mengedepankan pengusaha daerah, UMKM, dan koperasi. Karena BUMN di bawah Danantara itu bukan dari agregat yang terbesar, tapi bisa menjadi katalisator,” ujar dia.

