Penyaluran Beras SPHP Seret, Bos Bulog Buka-Bukaan soal Kendala di Lapangan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengungkapkan penyebab penyaluran beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) masih minim. Pasalnya hingga kini diketahui, penyalurannya masih sekitar 18.500 ton dari target 1,3 juta ton.
Menurut Rizal, para pengecer diharuskan menggunakan aplikasi SPHP yang bernama Klik SPHP, namun nyatanya di berbagai daerah para pengecer yang tidak memiliki telepon genggam yang mendukung.
"Karena semua ini menggunakan aplikasi, kan tidak semuanya langsung bisa cepat, kan perlu sosialisasi. Teman-teman pengecer yang di pasar-pasar itu kan rata-rata ya sudah sepuh, handphone-nya juga handphone jadul atau bagaimana ya," ucapnya saat ditemui di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Rabu (13/8/2025).
Meski demikian, Rizal menyebutkan, cabang-cabang Bulog yang berada di berbagai daerah di Indonesia tetap mendukung para pengecer dengan membantu melakukan pemesanan melalui aplikasi tersebut.
Baca Juga
Atasi Kelangkaan dan Harga Tinggi, Bos Bulog Dapat Izin Salurkan Beras Murah ke Ritel
"Kadang-kadang kita bantu lewat teman-teman cabang-cabang Bulog yang ada di wilayah. Kita bantu bagaimana supaya mereka bisa menggunakan aplikasi itu," terangnya.
Selain itu, Rizal mengungkapkan, kemampuan dari para pengecer untuk membeli beras SPHP masih minim. Meskipun maksimal pemesanan maksimal 2 ton, namun ia menyebutkan para pengecer kerap memesan di bawah 2 ton.
"Kalau kurang juga boleh, sesuai dengan kemampuan dari masing-masing pengecer. Karena pengecer kemampuannya beda-beda gitu kan, rata-rata rendah lah," beber Rizal.
Hal tersebut diungkapkan Rizal sebagai respons perintah dari Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan) Zulkifli Hasan atau yang akrab disapa Zulhas. Pasalnya, Perum Bulog diminta segera menyalurkan beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) sebesar 10.000 ton per hari.
"Tolong Pak Bulog cepat, kalau bisa berapa? 7.000 ya? Kalau bisa 10.000 satu hari, sehingga satu bulan bisa 300.000 (ton)," ungkap Menko Zulhas saat konferensi pers di Kantor Kemenko Pangan.

