Jepang Siap Dukung Program MBG hingga 175 Proyek Dekarbonisasi di Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Masaki Yasushi, menegaskan komitmen negaranya dalam mendukung proyek-proyek strategis Indonesia, mulai dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga transisi energi bersih.
“Jepang berkontribusi dalam pembangunan pelabuhan perikanan dan pasang surut pulau-pulau terpencil untuk mendukung sektor perikanan Indonesia yang memiliki sumber daya laut yang kaya,” ujar Yasushi dalam forum diskusi Indonesia-Japan Executive Dialogue di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (6/8/2025).
Menurutnya, empat proyek telah rampung di Morotai, Saumlaki, Moa, dan Dobo, sementara dua lainnya di daerah Natuna dan Sabang masih dalam proses pembangunan.
Dukungan Jepang terhadap program MBG Presiden Prabowo juga diwujudkan lewat pelatihan penyediaan makanan bergizi di sekolah. Bersama UNICEF, Jepang berencana membangun central kitchen di Papua dan memperluas proyek pendidikan gizi bagi anak-anak.
Pada sektor energi, Jepang menjadi mitra kunci dalam inisiatif Asia Zero Emission Community (AZEC) yang menaungi lebih dari 175 proyek dekarbonisasi. Salah satu proyek utama adalah pembangunan pembangkit listrik panas bumi di Muara Laboh.
Baca Juga
RI Tujuan Investasi Nomor 2 bagi Jepang, Rachmat Gobel Dorong Kepastian Kebijakan
Yasushi juga menyoroti rampungnya fasilitas uji kendaraan Rooting Ground di Bekasi, yang menjadi pusat uji pertama di ASEAN dengan standar internasional.
Selain itu, Jepang mendukung ekspansi Pelabuhan Patimban untuk ekspor mobil, yang ditargetkan mampu menampung hingga 100.000 unit per tahun.
Tak cuma itu, Dubes Yasushi memuji pelaksanaan GIIAS 2025 di mana Toyota baru saja meluncurkan mobil listrik baru di Indonesia. Menurutnya langkah ini adalah simbol keseriusan Jepang dalam mendukung transformasi industri hijau Indonesia.
Di sisi lain, Jepang juga mendorong penandatanganan MoU antara JETRO dan KADIN yang berfokus pada teknologi ramah lingkungan dan dekarbonisasi. Dukungan juga datang dari kalangan bisnis Jepang yang melihat peluang besar dalam hilirisasi Indonesia.
Dubes Yasushi menyebut jumlah tenaga kerja Indonesia di Jepang, baik pemagang maupun profesional, terus meningkat pesat. Selama 10 tahun terakhir, jumlah perusahaan Jepang yang beroperasi di Indonesia juga naik hampir dua kali lipat.
Di sektor pendidikan, kerja sama kedua negara semakin erat melalui Konferensi Rektor Jepang-Indonesia ke-6 di Universitas Hasanuddin, Makassar, yang diikuti 48 universitas. Pertukaran mahasiswa dan dosen dinilai sebagai fondasi kuat hubungan jangka panjang.
Jepang pun menyatakan dukungan terhadap keanggotaan Indonesia di OECD dan penguatan sistem perdagangan bebas yang adil. “Ini adalah kesempatan bagi kedua negara untuk menunjukkan kepemimpinan dalam menjaga ekonomi terbuka dan inklusif,” pungkasnya.

