Startup Perplexity makin agresif menggempur dominasi Google Chrome di pasar browser mobile
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id - Startup Perplexity makin agresif menggempur dominasi Google Chrome di pasar browser mobile. Terbaru, mereka sedang melakukan penjajakan dengan produsen ponsel untuk memasang browser baru, Comet, sebagai aplikasi bawaan.
Langkah ini dinilai sebagai upaya strategis untuk merebut pengguna dari ekosistem pencarian Google yang telah mendominasi pasar mesin pencarian. Namun perusahaan mengakui adanya tantangan besar yang dihadapi karena kebiasaan pengguna ponsel yang cenderung bertahan dengan aplikasi bawaan.
“Tidak mudah meyakinkan OEM untuk mengganti browser bawaan dari Chrome ke Comet,” kata CEO Perplexity, Aravind Srinivas, dilansir dari Reuters, Sabtu (19/7/2025).
Baca Juga
Perkuat Layanan Cloud Berteknologi AI, Telkomsigma Berkolaborasi dengan Google Cloud
Comet sendiri masih dalam versi beta dan hanya tersedia di desktop. Namun, Perplexity berambisi menjadikan Comet sebagai browser AI masa depan dengan kemampuan menjawab pertanyaan dari data pribadi pengguna, merangkum halaman web, hingga menjadwalkan rapat secara otomatis.
Dengan target menjangkau puluhan hingga ratusan juta pengguna pada 2026, Perplexity ingin menggeser dominasi Chrome yang saat ini menguasai 70% pasar browser mobile, menurut data Statcounter. Apple Safari dan Samsung Internet berada jauh di bawah dengan total gabungan sekitar 24%.
Baca Juga
Google Cloud Luncurkan Program 'Indonesia BerdAIa' untuk Perkuat Keamanan Siber Nasional
Strategi ini menjadi bagian dari tren baru industri teknologi menuju browser berbasis agentic AI, yang memungkinkan pengguna melakukan aktivitas kompleks tanpa banyak campur tangan manual. Bahkan OpenAI pun dikabarkan tengah menyiapkan browser AI serupa.
Perplexity sebelumnya juga dilaporkan tengah menjajaki kerja sama dengan Samsung dan Apple untuk menyuntikkan kemampuan pencarian AI ke dalam sistem mereka, berpotensi memperkuat asisten digital seperti Bixby dan Siri.
Langkah menggandeng produsen ponsel dinilai krusial. Dengan aplikasi yang terpasang secara default, Perplexity bisa memanfaatkan efek 'stickiness', di mana pengguna cenderung enggan mengganti browser yang sudah tersedia sejak awal.
Didukung oleh nama-nama besar seperti Nvidia, Accel, Jeff Bezos, dan mantan CEO Google Eric Schmidt, Perplexity telah mengantongi pendanaan sebesar US$ 500 juta dan kini bernilai US$ 14 miliar.

