Trump Lirik Tembaga Indonesia, Bahlil: Ekspor Harus Sesuai Aturan RI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menanggapi ketertarikan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap tembaga milik Indonesia. Dia menegaskan, segala proses ekspor harus sesuai dengan aturan yang berlaku di Indonesia.
Sebagaimana diketahui, Pemerintah Indonesia dan Amerika telah melakukan negosiasi dalam rangka menurunkan tarif resiprokal yang ditetapkan Trump dari semula 32% menjadi 19%. Dalam negosiasi dagang tersebut, tembaga menjadi salah satu komoditas yang diminati oleh Amerika.
Kendati demikian, Bahlil memastikan bahwa ekspor tembaga ke Amerika harus melewati proses hilirisasi terlebih dahulu, alias bukan barang mentah. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Perdagangan No. 10 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Permendag No. 22 Tahun 2023 tentang Barang yang Dilarang untuk Diekspor.
“Dalam negosiasi itu, aturan-aturan yang di dalam negeri tetap diterapkan. Jadi andaikan pun ada yang harus kita kirim tembaga, pasti saya yakinkan semuanya dalam kerangka aturan yang berlaku di negara kita,” kata Bahlil di Sekretariat Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (18/7/2025).
Baca Juga
Meski Tembaga RI Dipuji Trump, Ekspor Freeport Masih Condong ke China
Bahlil pun menyampaikan bahwa dia berkoordinasi kembali dengan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto terkait apa saja yang akan diekspor ke Negeri Paman Sam tersebut, termasuk kemungkinan ekspor tembaga.
“Nanti saya akan ngecek ya. Saya akan ngecek lagi, minta arahan nanti Bapak Presiden Prabowo dan Pak Menko item-itemnya apa saja,” ujar mantan Menteri Investasi tersebut.
Sebelum ini, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan, keinginan Trump terkait tembaga Indonesia sebenarnya bisa diakomodir lewat produksi PT Freeport Indonesia (PTFI) yang berkaitan dengan AS.
"Intinya begini misalnya, yang jelas, kalau produknya dari tembaga kita kan utamanya dari PT Freeport. PT Freeport asosiasinya ke sana (AS) juga. Jadi, saya pikir gak terlalu mengkhawatirkan," ucap Tri saat ditemui di Gedung Parlemen, Jakarta, Rabu (16/7/2025).

