Ekspor Baja Indonesia Tembus AS Meski Kena Tarif Tinggi, Menperin: Bukti Daya Saing Industri Baja Nasional
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita secara resmi melepas ekspor baja lapis dari PT Tata Metal Lestari ke Amerika Serikat (AS) dengan volume 10.000 ton senilai US$ 12,6 juta, meski produk tersebut dikenakan tarif impor tinggi hingga 50%.
Ekspor ini menjadi yang keempat sepanjang tahun 2025, dengan target total pengapalan mencapai 69.000 ton baja lapis. “Meskipun tarif baja di AS jauh lebih tinggi dibanding produk lainnya yang hanya 19%, mereka tetap bergantung pada impor baja lapis. Ini menunjukkan daya saing industri baja nasional,” ujar Menperin dalam keterangan resminya, Sabtu (19/7/2025).
Baca Juga
5 Emiten Siap IPO, BEI Catat Antrean Jumbo di Tengah Lonjakan Dana Pasar Modal
Agus menegaskan pentingnya efisiensi produksi untuk meningkatkan nilai tambah produk ekspor. “Agar semakin kompetitif, pelaku industri baja harus terus meningkatkan efisiensi agar produk yang dihasilkan bernilai tambah tinggi,” jelasnya.
Menperin menyoroti bahwa ekspor merupakan salah satu mesin utama penggerak ekonomi Indonesia, selain konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi. “Dari keempat mesin tersebut, ekspor masih menunjukkan kinerja paling kuat, baik dari sisi nilai maupun volume,” tegas Agus.
Ia menambahkan bahwa aktivitas ekspor yang terus tumbuh juga mencerminkan pergerakan sektor produksi dan logistik di dalam negeri yang semakin aktif.
Baca Juga
Kena Tarif Impor Trump 19%, Kadin Ungkap Perdagangan RI-AS Bisa Tembus US$ 80 Miliar
Pemerintah, kata Menperin, akan terus konsisten menjalankan kebijakan hilirisasi industri sebagai strategi jangka panjang untuk menghasilkan produk turunan dengan nilai tambah tinggi. Langkah ini penting untuk memperluas penetrasi ke pasar ekspor seperti AS.
Namun demikian, Menperin mengingatkan agar pasar dalam negeri tetap dijaga. “Sekitar 80% output industri manufaktur kita diserap pasar domestik. Maka, penting untuk melindungi pasar nasional dari serbuan produk impor,” tutupnya.

