Dua Kontraktor Global Bersaing Ketat untuk Pekerjaan Proyek Gas Abadi Masela Inpex Rp 307 T
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Dua kontraktor global terkemuka bersaing ketat untuk mendapatkan kontrak rekayasa dan desain awal dari operator Jepang Inpex Corporation terkait pengerjaan proyek raksasa gas Abadi, Blok Masela, Maluku yang direncanakan senilai US$ 19 miliar (Rp 307 triliun).
Demikian dikatakan dua orang yang mengetahui proses penawaran tersebut kepada Upstream, dikurip Minggu (13/7/2025).
Ladang gas lepas pantai Abadi pada kontrak bagi hasil Masela yang terpencil akan dieksploitasi melalui onshore liquified natural gas (OLNG). Proyek ini berkapasitas 9,5 juta ton per tahun, dan akan menyediakan 150 juta kaki kubik gas pipa per hari untuk pasar domestik.
Operator tersebut mengincar setidaknya dua pekerjaan untuk proyek gas Abadi. Adapun Inpex hampir menyelesaikan kontraktor pilihannya untuk pekerjaan front end engineering design (FEED) pada fasilitas ekspor gas.
Inpex Corporation melalui anak perusahaannya Inpex Masela, Ltd tengah mengejar realisasi pengembangan proyek Abadi Masela. Saat ini, Inpex sedang menyelesaikan tahap akhir proses tender.
Baca Juga
Masela Melempem? Menteri Bahlil Siap Panggil dan Tindak Tegas Inpex Bulan Depan
“Dalam waktu dekat akan memulai fase FEED, yang menjadi tonggak penting dalam perjalanan proyek ini,” kata Executive Project Director Inpex Masela Ltd Jarrad Blinco, dalam keterangannya, Rabu (9/7/2025).
Jarrad mengatakan, proyek gas Abadi merupakan proyek strategis baik bagi Inpex maupun Indonesia. Berlokasi di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, wilayah yang lokasinya jauh dari pusat aktivitas utama ini membutuhkan perencanaan logistik dan teknis presisi. “Salah satunya adalah tantangan teknis, yakni pipa harus melintasi Palung Tanimbar dengan kedalaman lebih 1.500 meter,” ujar Jarrad.
Selain itu, fasilitas floating production storage and offloading (FPSO) yang akan dibangun merupakan salah satu terbesar di Indonesia. “Kami akan menggunakan sistem Christmas Tree terbesar yang pernah diproduksi di Indonesia, serta menjadikan proyek ini sebagai yang pertama menerapkan teknologi subsea Christmas Tree CCS melalui sumur bawah laut,” jelas Jarrad.
Inpex meyakini bahwa proyek ini akan menjadi salah satu kontributor utama dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Tentunya dengan sinergi bersama para mitra dan dukungan Pemerintah Indonesia melalui Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).
Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas Rikky Rahmat Firdaus menyampaikan bahwa daya saing investasi hulu migas Indonesia saat ini berada di peringkat ke-9 dari 14 negara di Asia Pacifik.
Dia menekankan urgensi strategi terobosan untuk meningkatkan daya saing dan menempatkan Indonesia pada posisi yang lebih baik di kancah global. ”Terdapat setidaknya 15 proyek strategis di industri hulu migas Indonesia, termasuk di dalamnya Proyek Abadi, WK Masela, yang diharapkan berproduksi sesuai jadwal”, kata Rikky.
Baca Juga
Proyek Abadi Masela dirancang menjadi proyek LNG pertama di Indonesia yang menerapkan teknologi carbon capture and storage (CCS) sejak awal pengembangannya. Pendekatan ini akan memainkan peran penting dalam mendukung target nasional dekarbonisasi Indonesia. Sebagai salah satu proyek strategis nasional di sektor energi, proyek gas Abadi memainkan mewujudkan ketahanan energi nasional berbasis energi bersih.
Proyek LNG Abadi mencakup pembangunan dua train likuefaksi LNG di darat dengan total kapasitas produksi sebesar 9,5 juta metrik ton per tahun (MTPA), penyaluran gas pipa sebesar 150 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) untuk kebutuhan domestik, dan produksi kondensat sekitar 35.000 barel per hari (BCPD).
Inpex mengelola Lapangan Gas Abadi dengan partisipasi 65%, bersama mitra Pertamina Hulu Energi Masela (20%) dan Petronas Masela Sdn. Bhd. (15%).

