Subsidi Listrik 2025 Bakal Tembus Rp 90 Triliun, Ini 3 Penyebab Membengkaknya Anggaran
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan biaya subsidi listrik untuk tahun 2025 akan membengkak dari target yang telah ditetapkan. Hal ini terjadi karena sejumlah faktor yang tidak bisa dikendalikan seperti kurs dan Indonesian Crude Price (ICP). Selain itu, kenaikan subsidi sejalan dengan penjualan listrik.
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jisman Hutajulu menyebutkan, target subsidi listrik yang tercantum dalam APBN 2025 sebesar Rp 87,72 triliun. Namun, diperkirakan subsidi hingga akhir tahun nanti bakal menelan Rp 90,32 triliun.
Baca Juga
Pemerintah Tetapkan Tarif Listrik Juli - September 2025 Tak Alami Kenaikan
“Perhitungan (subsidi listrik) sampai Mei 2025 sudah mencapai Rp 35 triliun untuk penyerapannya, dan outlook-nya Rp 90,32 triliun. Ada hal yang mendasari ini, terutama kurs dan ICP ini sangat volatile yang tidak bisa kita kendalikan,” kata Jisman dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR, di gedung parlemen, Jakarta, Senin (30/6/2025).
Jisman menerangkan, melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memberikan dampak cukup besar. Berdasarkan data Kementerian ESDM, setiap tahunnya sejak 2021, rupiah semakin melemah, hingga puncaknya pada 2025 ini mencapai Rp 16.000 per dolar AS.
“Bisa dilihat dari Rp 14.000 per dolar AS kemudian di Rp 15.000, Rp 16.000, dan seperti itu. Jadi ada peningkatan subsidi, kemudian ICP-nya juga demikian. Ada volatilitasnya,” jelas dia.
Baca Juga
Subsidi listrik sejatinya selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Terhitung sejak 2020, subsidi berada di angka Rp 47, 99 triliun, kemudian naik menjadi Rp 49,80 triliun (2021), Rp 58,83 triliun (2022), Rp 68,64 triliun (2023), dan Rp 77,05 triliun (2024).
Jisman menyampaikan, peningkatan subsidi listrik ini sejalan dengan bertambahnya volume penjualan. Pada 2024, volume penjualan sebesar 71,52 terawatt hour (TWh). Sedangkan hingga Mei 2025, volume penjualan sudah mencapai 31,17 TWh dan pada akhir tahun nanti diperkirakan menembus 76,63 TWh.
“Target outlook-nya, prognosanya 76,63 Twh. Jadi ada penambahan penjualan. Mungkin ini terjadi karena lebih baik ekonominya barangkali, sehingga penggunaan listriknya juga bertambah,” ucap Jisman.

