Pasar Pabrik Baterai EV di Karawang 70% Dalam Negeri, 30% Ekspor ke 3 Negara Ini
Poin Penting
|
KARAWANG, investortrust.id - Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC) Toto Nugroho mengungkapkan, off-taker atau pembeli baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto di Karawang, Minggu (29/6/2025) berasal dari dalam dan luar negeri.
Dia membeberkan, sebanyak 70% hasil produksi tersebut bakal diserap dalam negeri, sedangkan 30% sisanya diekspor. Adapun negara tujuan ekspor, meliputi Jepang, India, dan Amerika Serikat (AS).
“Jadi sudah ada beberapa off-taker langsung. Banyak yang ada di Indonesia. Ada juga yang pasar untuk ekspor. Negaranya ada Jepang, ada India, ada juga Amerika. Jadi kalau sudah pabriknya jadi, kita melakukan shipment-nya,” ujar Toto saat ditemui di Karawang, Minggu (29/6/2025).
Baca Juga
Danantara Tak Tutup Kemungkinan Ikut Biayai Proyek Pabrik Baterai EV
Proyek ekosistem baterai kendaraan listrik yang baru diresmikan ini adalah hasil investasi bersama (joint venture) antara Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co Ltd (CBL) dengan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam dan PT Indonesia Battery Corporation (IBC). CBL sendiri merupakan anak usaha Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL).
IBC adalah perusahaan BUMN yang dimiliki oleh empat perusahaan BUMN lainnya, yaitu PT Antam (Persero), PT Inalum (Persero), PT Pertamina New & Renewable Energy, dan PT PLN (Persero).
Mengingat adanya perjanjian dengan CATL, Toto belum bisa membocorkan pihak yang akan menjadi pembeli baterai EV yang diproduksi di Karawang tersebut. Namun, dia menyebut porsi ekspor bisa saja mengalami perubahan ke depannya.
“Kalau kita lihat dengan kondisi sekarang, diekspor sekitar 30%. Namun, nanti pasti berubah-ubah tahun ke tahun, detail ke mananya nanti akan berikan,” jelas dia.
Meski begitu, Toto menyebut bahwa untuk saat ini Eropa belum menjadi pasar baterai EV Indonesia. Sebab, Eropa sudah punya kapasitas sendiri yang jumlahnya cukup besar.
Baca Juga
Lebih lanjut, dia menjelaskan, perkembangan baterai EV ini akan sangat masif terjadi di China, Amerika, Timur Tengah, dan Eropa. Menurutnya, Indonesia patut bersyukur karena punya sumber daya nikel melimpah, sebagai bahan baku pembuatan baterai EV.
“Jadi inilah yang kita inginkan dari Indonesia. Kita bisa ekspor ke China, ke Amerika, ke Eropa. Itu harapan kita. Indonesia kan politik bebas aktif. Jadi kita tidak hanya ke satu negara saja, tetapi ke berbagai negara juga. Yang ada nikel ya alhamdulillah Indonesia. Jadi itu yang tugas negara kita untuk bisa meningkatkan,” paparnya.

