Ciptakan Lapangan Kerja Baru, Program MBG Berpotensi Serap 29 Juta UMKM Desa
JAKARTA, investortrust.id — Kementerian usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengungkapkan, program makan bergizi gratis (MBG) berpotensi besar menyerap lapangan pekerjaan sebanyak 29 juta pelaku UMKM di pedesaan hingga pesisir dari berbagai sektor, mulai dari produksi bahan pangan hingga jasa logistik dan pengelolaan limbah.
Mulanya, Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian UMKM Riza Damanik, menjelaskan bahwa sekitar 80% dari anggaran program MBG dialokasikan untuk belanja bahan baku makanan. Hal ini secara langsung membuka peluang pasar bagi jutaan pelaku usaha mikro dan kecil di sektor pangan.
“Bahan pokok tersebut tidak lain berasal dari petani, nelayan, peternak, dan pekebun yang tinggal di pedesaan dan di pinggir-pinggir pantai,” katanya dalam diskusi bersama Kantor Komunikasi Presiden bertajuk: Lapangan Kerja, UMKM dan Kemandirian Ekonomi Indonesia di kanal youtube Gempita Milenial, dikutip Senin (23/6/2025).
Merujuk pada data Kementerian, kata Riza, terdapat sekitar 29 juta UMKM yang bergerak di sektor pangan dan tersebar di wilayah pedesaan.
Baca Juga
Selain produsen langsung, lanjutnya, sebanyak 12 juta pedagang pasar juga dinilai potensial untuk menjadi bagian dari rantai pasok kebutuhan dapur program tersebut. “Mereka juga potensial menjadi pemasok bahan baku untuk dapur-dapur penyedia makan bergizi gratis,” tambah Riza.
Di bagian tengah rantai pasok (midstream), Riza menyebut adanya peluang besar bagi usaha kecil yang bergerak di bidang jasa boga (catering). Sesuai dengan ketentuan, dapur penyedia makan bergizi gratis harus mampu memproduksi sedikitnya 3.000 porsi per hari.
“Kami mengidentifikasi ada sekitar 30.000 jasa catering skala kecil yang memiliki kapasitas produksi tersebut,” tuturnya.
Baca Juga
Boy Thohir Sebut China Akan Bantu Program Makan Bergizi Gratis di Indonesia
Adapun untuk mendukung distribusi makanan ke lokasi-lokasi penerima manfaat, Kementerian UMKM mencatat sebanyak 8.365 pelaku jasa logistik yang telah terdata dalam Sistem Informasi Data Tunggal (SIDT) dan siap terlibat dalam program ini.
Tak sampai di situ, sektor hilir dari program ini juga menciptakan peluang usaha baru di bidang pengelolaan limbah makanan. Baik limbah organik maupun non-organik dinilai bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi, terutama oleh pelaku usaha mikro.
Sebagai upaya mengakselerasi keterlibatan UMKM dalam ekosistem makan bergizi gratis, kata Riza, Kementerian UMKM bersama Badan Gizi Nasional (BGN) telah meluncurkan Program Perluasan Keterlibatan UMKM di Pesantren Al Kasyaf, Cileunyi, Kabupaten Bogor.
“Di pesantren tersebut, terdapat SPPG (satuan pelayanan pemenuhan gizi) di mana seluruh input produksinya—seperti ayam, telur, dan ikan—berasal dari lingkungan sekitar, dari masyarakat setempat. Seluruh limbahnya juga dikelola oleh pengelola, yang menghasilkan pendapatan cukup signifikan bagi mereka,” ucap Riza.
Lebih lanjut, ia menegaskan, belanja bahan baku yang menyerap hingga 80% anggaran MBG memberikan efek berganda (multiplier effect) yang besar terhadap perekonomian lokal, baik di wilayah pedesaan maupun perkotaan.
“Ini merupakan salah satu strategi kami dalam menciptakan dan memperkuat ekosistem UMKM agar dapat menyerap tenaga kerja lebih luas,” pungkas Riza.

