Perajin Batik Khas Batang Kian Menyusut
PEKALAONGAN, Investortrust.id - Batik tulis khas Kabupaten Batang, Jawa Tengah diambang kepunahan. Peneliti dan pemerhati batik Kwan Hwie Liong atau yang akrab disapa William Kwan mengatakan, ancaman kepunahan tersebut ditandai dengan menyusutnya jumlah perajin batik di Kabupaten Batang.
"Saat ini jumlah pembatik itu mengalami penyusutan luar biasa," kata William saat ditemui di Pekalongan, Jawa Tengah, Selasa (25/2/2025).
William mengatakan, satu abad lalu, jumlah perajin batik di Batang mencapai 3.600 orang yang terdiri dari 2.000 orang perajin batik pedalaman, dan 1.600 orang perajin batik pesisiran. Namun, William mengungkapkan, kini yang tersisa tinggal 2 orang. "Sekarang jumlahnya hanya tersisa 2 orang, ya 2 orang, jadi bisa kita hitung tuh tinggal sisa berapa, mungkin 0,01% jumlahnya, jadi kita menyusut Habis begitu ya," ucapnya.
Baca Juga
Cerita Sukses Pelaku UMKM Binaan BRI, Hadirkan Batik Modern untuk Generasi Muda lewat Ethnic Gendhis
Direktur Institut Pluralisme Indonesia tersebut mengungkapkan, semakin tergerusnya perajin batik di Batang disebabkan tidak adanya generasi muda yang bersedia melanjutkan warisan budaya tersebut. Hal itu lantaran upah yang diterima tidak sebanding dengan pekerjaan yang dilakukan.
Ia menuturkan, pada 2018, untuk satu lembar kain tulis batik Batang yang dikerjakan selama 2 bulan hanya dihargai Rp 225.000. Dengan besaran tersebut, generasi muda justru lebih memilih bekerja di toko modern yang memperoleh gaji tetap tiap bulannya. "Jadi masalah regenerasi batik ini sangat mendesak dilakukan," ungkapnya.
Penyusutan juga terjadi pada perajin batik Rifa'iyah. Untuk diketahui, batik Rifa'iyah dibuat oleh para pembatik dengan cara ditulis menggunakan canting sambil membaca syair kidung berbahasa jawa berisi ajaran Islam. Salah satu khasnya, yakni larangan penggambaran wujud hewan secara utuh. William mengungkapkan, kini perajin batik tersebut tinggal 30-an orang.
"Rifa'iyah juga sama, sebelumnya ada sekitar 100 orang itu sekarang tinggal sisa 30-an orang, tinggal sedikit," ucapnya.
Berbagai upaya untuk regenerasi sudah dilakukan. Salah satunya, merekrut anak-anak muda untuk dilatih membatik tulis. Namun, upaya tersebut tidak cukup berhasil.
William mengatakan, pihaknya juga mencoba cara lainnya yakni memberi program magang kepada perajin batik dari desa lain untuk magang bersama perajin batik sepuh tersebut. Sayangnya, untuk bisa mempelajari satu motif batik membutuhkan waktu 2 tahun.
Baca Juga
Prabowo Bakal Umumkan Kabinet Malam Ini, Calon Menteri Kompak Pakai Batik Cokelat
Dia mengaku tak pernah mengandalkan pemerintah dalam upaya regenerasi perajin batik di Kabupaten Batang. Menurutnya program pelatihan yang dianggarkan pemerintah kerap tidak efektif jika tidak diikuti dengan pendampingan. "Terus kemudian harus dihubungkan dengan market, kalau enggak bisa dijual buat apa?" tuturnya.
Akhirnya, pihaknya menggandeng 7 sekolah tingkat lanjut atas di Kabupaten Batang dengan mengajak peserta didiknya membatik. Ia mengaku bernapas lega melihat upaya tersebut cenderung berhasil dibanding beberapa upaya sebelumnya.
"Saya sekarang sudah mulai punya harapan untuk menggunakan jalur pendidikan generasi muda secara langsung yaitu melalui sekolah. Dari situ sekolah dikumpulkan sehingga terjadi jaringan antarpelajar, antarguru, dan jaringan antarsekolah untuk revitalisasi batik Batang," ungkapnya. (C-14)

