Transformasi Digital di Indonesia Bisa Melesat, Ini Tantangan dan Peluangnya!
JAKARTA, investortrust.id - Dengan penetrasi internet yang hampir mencapai 80% dari populasi, Indonesia disebut memiliki potensi besar dalam transformasi digital. Namun tantangan terbesarnya adalah harus memastikan ketersedian akses, edukasi, dan keamanan.
Hal tersebut disampaikan oleh Country Managing Director Grab Indonesia, Neneng Goenadi, dalam acara Indonesia Economic Summit (IES) 2025 di Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (19/2/2025).
Dalam dikusi bertajuk "Racing Against the Clock: Accelerating Indonesia's Digital Transformation", ia menjabarkan sejauh mana perkembangan digital di Indonesia dan bagaimana adopsi teknologi terjadi dengan cepat setiap hari.
Namun, di balik kemudahan akses digital, muncul tantangan baru seperti keamanan data dan kekhawatiran akan dampak teknologi seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terhadap tenaga kerja.
“Digitalisasi membuka banyak peluang, termasuk dalam pencarian pekerjaan. Namun, integrasi literasi digital dan keuangan menjadi sangat penting,” ujar Neneng.
Ia juga menambahkan bahwa dari perspektif keamanan, masyarakat harus memahami pentingnya privasi data. Oleh karena itu, Grab telah bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Badan Siber dan Sandi Negara untuk memastikan perusahaan memiliki pemahaman yang kuat terkait privasi data.
Sementara itu, Founder dan CEO Fuxi Institution, Lee Xiaodong, menekankan bahwa teknologi yang meningkatkan efisiensi kerja bukan lagi sekadar pilihan. “Kita tidak punya pilihan di dunia baru,” katanya.
Xiaodong juga menambahkan bahwa dengan kemajuan AI, industri harus memastikan masyarakat memahami teknologi baru dan melihatnya sebagai peluang, bukan ancaman bagi tenaga kerja.
Namun demikian, Indonesia tidak selalu berada di garis depan dalam adopsi digital. Co-Founder & Managing Partner East Ventures, Willson Cuaca, mengungkapkan bahwa 16 tahun lalu Indonesia belum memiliki ekosistem digital yang matang. Menurutnya, keberuntungan juga memainkan peran dalam pertumbuhan digital negara ini.
“Di Indonesia, kita harus menjadi pemimpin yang pragmatis. Ada begitu banyak tantangan di negeri ini, dan pendekatan yang kami kembangkan sederhana: apakah startup tersebut dapat membuat sesuatu lebih murah atau membuat hidup lebih mudah dan efisien?” ujar Willson.
East Ventures sendiri telah berkontribusi dalam membangun lanskap digital Indonesia, menjadi modal ventura paling aktif dengan mendukung 300 startup, termasuk beberapa unicorn. Berkat ekosistem yang semakin matang, pertumbuhan ekonomi digital Indonesia meningkat secara signifikan dalam dua dekade terakhir.
Laporan East Ventures’ Digital Competitiveness Index juga menunjukkan bahwa daya saing digital Indonesia meningkat dalam lima tahun terakhir. Bahkan, 40% dari total transaksi ekonomi digital di ASEAN pada 2022 berasal dari Indonesia, menandakan semakin kuatnya peran Indonesia dalam ekosistem digital kawasan. (C-13)

