Dapat PR dari Bank Dunia, Rosan Bakal Libatakan Menteri Prabowo Perbaiki Iklim Investasi
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani mendapatkan pekerjaan rumah (PR) hasil laporan Business Ready (B-Ready) dari Bank Dunia perihal iklim investasi di Indonesia.
Untuk memperbaiki iklim investasi di Tanah Air, Rosan mengaku nantinya bakal melibatkan lintas kementerian di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto atau jajaran Kabinet Merah Putih.
"Tentunya kita akan berkomunikasi dengan yang pasti dengan notarisnya itu kan dengan notaris, dengan kementerian-kementerian lainnya," katanya usai diseminasi hasil laporan Bank Dunia di Four Season Jakarta, Senin (10/2/2025).
Menurut Rosan meski terdapat banyak catatan dari Bank Dunia yang menjadi PR bagi Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, pemerintah tetap on track untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi mencapai 8% dalam lima tahun ke depan. Ia menambahkan pemerintah akan fokus untuk keluar dari yang disebut dengan middle income trap.
"Itu pengen kita bersama, dari segi regulasi policy itu intinya kita sempurnakan lah gitu ya," ujarnya.
Laporan B-Ready oleh Bank Dunia
Bos BKPM itu mengatakan laporan tahunan yang dikeluarkan oleh Bank Dunia akan dijadikan acuan pemetaan yang akan dilakukan oleh Kementerian Investasi/BKPM dalam melakukan penyempurnaan.
Kemudian Rosan membeberkan setidaknya ada tiga lini yang akan ditingkatkan pelayanannya oleh Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM. Di antaranya yang terkiat dengan regulatory framework, business efficiency dan juga public services.
"Ini (laporan B-Ready dari Bank Dunia) sangat membantu kita, karena kita selalu mencoba untuk meningkatkan investasi kita, our investment plan," ungkapnya.
Sementara itu laporan Bank Dunia menunjukkan proses perizinan usaha atau business entry di Indonesia memerlukan waktu kurang lebih selama 65 hari. Diakui Rosan, itu terlalu lama lantaran rerata negara maju hanya memerlukan waktu 1-3 hari saja.
"Ini mungkin salah satu hal yang kita akan tingkatkan karena kalau orang mau berinvestasi waktunya lama, ini yang harus kita assesment," tuturnya.
Diketahui Bank Dunia memberikan skor 63 untuk iklim usaha di Indonesia sepanjang tahun 2024. Skor tersebur menempati urutan ketiga di Asia Tenggara, setelah Singapura dan Vietnam. Dalam skala 0-100, rerata skor negara-negara yang dikaji adalah 65,5.
"Harapannya tahun depan skoring kita ini bisa lebih meningkat, terutama kalau keinginan kita, kita harus lebih baik lagi terutama dari sisi business efficiency," ujarnya.

