Bulog: Tingginya Harga Gabah Kering Jadi Tantangan Penyerapan Cadangan Beras di Tengah Dampak El Nino
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Bisnis Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) Febby Novita membeberkan tantangan yang dihadapi dalam penyerapan cadangan beras pemerintah di tengah dampak cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino di tahun 2023 hingga 2024.
Menurutnya, harga gabah kering panen (GKP) yang tinggi menjadi salah satu kendala utama dalam menjaga ketersediaan beras medium sesuai harga yang telah ditetapkan.
“Beras yang dibeli Bulog untuk cadangan pangan ini kan kelasnya medium, di mana harga belinya sudah ditetapkan, begitupula harga jualnya,” ujarnya, dalam acara Investortrust Focus Group Discussion dengan tema ‘Memperkuat Basis Pangan Lokal, Memacu Pertumbuhan Ekonomi 8%’, di Mezzanine Ballroom, Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis (19/12/2024).
Namun, lanjut Febby, dengan harga GKP di sawah yang saat ini mencapai Rp 6.000 per kilogram akibat meningkatnya biaya produksi seperti pupuk dan lainnya, sangat sulit bagi Bulog untuk menyerap dengan harga yang ditetapkan pemerintah.
Baca Juga
Top, Menko Zulhas Pastikan Keran Impor Beras, Garam, Gula dan Jagung Ditutup di 2025
Meski ada wacana untuk menaikkan harga dasar pembelian GKP, kebijakan ini memerlukan pertimbangan matang. Pasalnya, dari sejumlah diskusi dari pengambil kebijakan, bila menaikan harga dasar itu berpotensi mempengaruhi tingkat inflasi dan dinamika harga di pasar.
“Memang ini pemerintah agak berhitung untuk menaikkan harga gabah kering panen untuk pembelian Bulog,” kata Febby.
Sehingga, dikatakan dia, untuk cadangan beras pemerintah sendiri membutuhkan effort atau upaya untuk mendapatkan harga yang sesuai.

