Cushman & Wakefield: Program 1 Juta Hunian Vertikal Berdampak Positif bagi Sektor Properti
JAKARTA, investortrust.id - Cushman & Wakefield Indonesia menilai program pembangunan 1 juta hunian vertikal atau apartemen murah yang dicanangkan pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming akan berdampak signifikan pada pasar properti.
Director of Strategic Consulting of Cushman & Wakefield Indonesia Arief Rahardjo mengatakan, dampak positif yang ditimbulkan khususnya berupa peningkatan akses kepemilikan apartemen dengan harga terjangkau di perkotaan.
"Pemanfaatan lahan pemerintah dalam program ini membantu menekan biaya pembangunan, sehingga harga apartemen menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat," kata Arief dalam Koferensi Pers mengenai Pasar Kondominium Menengah Bawah di Jabodetabek secara daring, Selasa (17/12/2024).
Selain itu, kata Arief, lokasi yang dipilih untuk pengembangan apartemen di perkotaan mendukung kemudahan mobilitas, mengurangi pergerakan kendaraan pribadi, dan mendorong penggunaan transportasi publik, yang pada gilirannya dapat mengurangi kemacetan dan polusi udara.
"Program ini juga berperan dalam mendorong perkembangan pusat komersial baru, sekaligus meningkatkan kenyamanan hidup bagi pekerja usia produktif yang semakin membutuhkan hunian yang terjangkau dan strategis di pusat kegiatan ekonomi," terang Arief.
Baca Juga
Kementerian BUMN Bakal Sulap Lahan Bekas PTPN Jadi Kawasan Hunian
Menurut data Cushman & Wakefield, diperkirakan sampai akhir 2024 ini akan ada 10.000 pasokan proyek eksisting di Jabodetabek menjadikan total kumulatif pasokan menjadi 386.111 unit. Sedangkan pasokan mendatang ada penambahan sekitar 870 unit. Pada tahun 2025, pasokan eksisting diperkirakan akan bertambah sekitar 18.000 unit, yang Sebagian besar berada di Bekasi dan Tangerang.
Sementara itu tingkat penjualan dan pra-penjualan kondominium diperkirakan akan cenderung stabil di 93,7% dan 58,4% pada tahun 2025, mengingat adanya kebijakan penerapan PPN 12% yang akan mempengaruhi permintaan. Permintaan pada proyek eksisting diperkirakan masih akan mendominasi permintaan.
"Dengan adanya kebijakan kenaikan PPN 12% diperkirakan para pengembang masih banyak yang akan wait and see serta menunda peluncuran proyek baru hingga kondisi pasar lebih stabil. Diperkirakan pasokan baru akan meningkat di semester kedua 2025," ujar dia, seraya menambahkan bahwa pengaruh positif pembangunan 1 juta unit hunian perkotaan diperkirakan bakal memberikan dampak paling cepat di tahun 2026.

