247 Bendungan Berpotensi Jadi Kawasan Wisata hingga Pembangkit Listrik
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU), Diana Kusumastuti mengatakan, 247 bendungan yang telah rampung memiliki potensi di empat sektor, mulai dari penyediaan air baku untuk masyarakat hingga destinasi wisata daerah.
''Bendungan itu kan memang fungsinya tidak hanya untuk irigasi. Pertama adalah air baku, ketahanan pangan, bisa juga untuk PLTS (pembangkit listrik tenaga surya) dan sebagainya, bahkan juga bisa untuk wisata,'' kata Diana saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Jakarta, Jumat (15/11/2024).
Berdasarkan catatan investortrust.id, Staf Ahli Bidang Teknologi, Industri, dan Lingkungan Kementerian PU, Endra S Atmawidjaja melaporkan, pemerintah telah membangun sebanyak 247 bendungan yang berpotensi untuk dijadikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang bisa menghasilkan listrik hijau atau ramah lingkungan sebesar 1.470 megawatt (MW).
“Kita sudah punya 186 bendungan eksisting ditambah 61 bendungan baru yang punya potensi pembangkit listrik tenaga surya itu 1.470 MW,” ungkap Endra saat ditemui di Kantor Kementerian PUPR, Jakarta Selatan, Jumat (4/10/2024).
Ia turut mencontohkan, penerapan PLTS terbesar di Asia Tenggara tepatnya di Bendungan Cirata, Jawa Barat memiliki kapasitas 192 MW untuk melayani 50.000 kepala keluarga (KK).
“Ini kan ada keuntungannya, kalau energi terbarukan ini dia tidak tersistem seperti Jawa-Bali begitu. Dia bisa yang lokal-lokal, jadi unbundling konsep itu bisa dipakai di sini,” imbuh Endra.
Selain PLTS, ia juga mengungkapkan sebanyak 73 bendungan juga berpotensi menjadi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang dapat menghasilkan listrik hijau atau energi baru terbarukan (EBT) sebesar 925 MW.
Namun demikian, Endra tak menampik rencana tersebut masih berupa hasil dari godokan tim ahli Kementerian PUPR untuk pemerintah selanjutnya.
“(Sudah koordinasi dengan PLN?) Belum, ini kan kajian kita (Kementerian PUPR). Tapi kan pasti harus ditindaklanjuti dengan studi yang lebih detail. Ini kan masih preliminary study, harus diperdalam lagi oleh expert-nya,” tutup dia.

