Kehadiran Presiden Prabowo di KTT APEC dan G20 Momentum Tarik FDI dan Perluas Pasar Ekspor
JAKARTA, investortrust.id – Kehadiran Presiden Prabowo Subianto di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) Peru dan KTT Kelompok 20 (G20) Brasil merupakan momentum emas bagi Indonesia untuk menarik lebih banyak investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) serta mendiversifikasi pasar ekspor ke kawasan Amerika Latin dan Karibia yang mencakup 33 negara.
Menurut pakar hukum bisnis dan perdagangan internasional, Prof Ariawan Gunadi, KTT APEC di Peru pada 13-16 November dan KTT G20 di Brasil pada 18-19 November 2024 merupakan forum internasional bergengsi yang mempertemukan para pemimpin dunia dan investor global potensial.
“Kedua forum ini sangat strategis bagi Indonesia karena memberikan kesempatan untuk memperlihatkan stabilitas ekonomi, reformasi kebijakan yang ramah investasi, serta berbagai peluang sektor-sektor strategis di dalam negeri,” ujar Prof Ariawan dalam keterangan resmi yang diterima investortrust.id di Jakarta, Minggu (10/11/2024).
Baca Juga
Prof Ariawan menjelaskan, melalui diplomasi ekonomi yang efektif, Presiden Prabowo dapat membangun kepercayaan mitra internasional dan menunjukkan komitmen Indonesia terhadap investasi berkelanjutan dan pembangunan ekonomi.
Kunjungan Presiden Prabowo ke Peru dan Brasil, kata Ariawan Gunadi, dapat memperkuat hubungan perdagangan internasional Indonesia dengan negara-negara di kawasan Amerika Latin dan Karibia.
“Kunjungan ini merupakan momentum emas untuk memperluas dan mendiversifikasi pasar ekspor bagi berbagai produk unggulan nasional pascapenyelenggaraan Indonesia-Latin America and Caribbean (Ina-LAC) Business Forum pada 11-13 September 2024,” tutur Ariawan.
Guru besar Universitas Tarumanagara itu mengungkapkan, Amerika Latin dan Karibia merupakan mitra strategis bagi Indonesia untuk memperluas pasar perdagangan internasional bagi produk-produk dalam negeri.
Prof Ariawan menambahkan, kawasan Amerika Latin dan Karibia terdiri atas 33 negara dengan populasi 639,6 juta jiwa atau 8,09% dari populasi dunia. Produk domestik bruto (PDB) kawasan tersebut pada 2022 mencapai US$ 6,52 triliun dengan PDB per kapita rata-rata US$ 10.190.
Selama beberapa tahun terakhir, menurut Ariawan, kawasan Amerika Latin dan Karibia telah berkembang menjadi mitra strategis perdagangan bagi Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari kemiripan tantangan dan peluang yang dihadapi negara-negara berkembang di kedua kawasan tersebut.
Baca Juga
Ketum Kadin Anindya N Bakrie: Indonesia perlu Penguatan Ekspor ke Afrika dan Amerika Latin
Baru Separuh dari Vietnam
Ariawan Gunadi mengemukakan, total nilai perdagangan Indonesia dengan negara-negara di kawasan tersebut pada 2023 mencapai US$ 13,1 miliar. Namun, angka ini masih jauh di bawah Vietnam. “Perdagangan Vietnam dengan negara-negara Amerika Latin dan Karibia bahkan mencapai dua kali lipatnya,” tandas dia.
Prof Ariawan mengakui, kondisi ini menunjukkan adanya potensi besar bagi Indonesia untuk memperkuat kolaborasi perdagangan guna memperluas akses pasar bagi produk-produk unggulan ke pasar Amerika Latin dan Karibia. Produk unggulan Indonesia di antaranya hasil pertanian, makanan olahan, tekstil, dan produk industri kreatif.
“Negara-negara di kawasan Amerika Latin dan Karibia kian membuka peluang bagi produk-produk Asia yang memiliki daya saing tinggi,” ujar dia.
Karena itu, kata Ariawan Gunadi, hubungan perdagangan antara kawasan Amerika Latin dan negara-negara di kawasan Asia Pasifik memegang peranan penting dalam pemulihan bersama dari dampak ketidakstabilan global saat ini.
“Kerja sama ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif, merata, dan berkelanjutan di kedua wilayah, sehingga tercipta stabilitas ekonomi jangka panjang yang bermanfaat bagi masyarakat luas di masing-masing kawasan,” papar dia.
Selain itu, menurut Prof Ariawan, kehadiran Presiden Prabowo di APEC dan G20 memungkinkan Indonesia memperkuat citra sebagai tujuan investasi yang aman dan menguntungkan. Lewat forum ini, pemerintah dapat mengomunikasikan berbagai reformasi proinvestasi, kebijakan insentif, dan infrastruktur yang sedang dikembangkan.
Baca Juga
Dia menjelaskan, langkah ini diharapkan tidak hanya menarik investasi jangka pendek, tetapi juga memperkuat ekonomi dalam jangka panjang, meningkatkan daya saing nasional, dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat.
“Saya meyakini kunjungan luar negeri yang dilakukan Presiden Prabowo ini mencerminkan komitmen kuat Indonesia untuk berperan secara aktif dalam percaturan internasional,” tutur dia.
Prof Ariawan menambahkan, langkah ini merupakan wujud keseriusan Indonesia memperjuangkan berbagai kepentingan nasional, sekaligus menunjukkan kontribusi nyata dalam mengatasi berbagai tantangan global yang dihadapi bersama negara-negara lain.
“Partisipasi ini menegaskan posisi Indonesia sebagai negara yang turut serta menciptakan solusi kolektif di tingkat global,” tegas dia.

