MTI Sebut Perlu Biaya Rp 21,4 Triliun untuk Tutup Perlintasan Sebidang Kereta Api
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Ketua Pemberdayaan dan Penguatan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno menyoroti, masih tingginya insiden kecelakaan di perlintasan sebidang kereta api (KA).
Menurutnya, masih ada sekitar 138 dari 189 titik perlintasan sebidang yang perlu ditangani atau ditutup dan membutuhkan anggaran sebesar Rp 21,39 triliun.
“Total perlintasan tak sebidang jalur kereta api yang sudah ditangani dengan jalan nasional ada 49 titik lokasi. Total perlintasan sebidang jalur kereta api yang belum ditangani dengan jalan nasional ada 138 titik lokasi dengan estimasi biaya Rp 21,39 triliun,” kata Djoko dalam keterangan resmi yang diterima investortrust.id, dikutip Senin (28/10/2024).
Ia menambahkan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sudah mempunyai Rencana Strategis Kementerian PUPR 2025-2039 tentang Penanganan Perlintasan Sebidang Jalur Kereta Api dengan Jaringan Nasional.
Baca Juga
KAI Layani Catat 1,5 Juta Penumpang KRL dan LRT di Hari Pelantikan Prabowo
Adapun perincian anggaran sebesar Rp 21,39 triliun tersebut, menurut Djoko, sebesar Rp 8,37 triliun untuk membangun 54 flyover atau underpass sepanjang tahun 2025-2029, tahun 2030 -2034 sebanyak Rp 7,44 triliun untuk 48 flyover atau underpass, dan tahun 2035 - 2039 dianggarkan Rp 5,58 triliun untuk 36 flyover atau underpass.
“Alternatif skema pembiayaan didapat dari APBN, pinjaman luar negeri, pinjaman dalam negeri, Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), Badan Usaha Milik Negara (BUMN),” tambah dia.
Djoko pun mengutip data PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI tahun 2023, di mana data perlintasan sebidang berjumlah 3.693 lokasi yang terdiri dari perlintasan dijaga 1.598 lokasi.
“Sementara itu, perlintasan tidak dijaga sebanyak 2.095 lokasi, terdiri dari resmi tidak dijaga 1.132 lokasi dan liar 963 lokasi,” papar Djoko.
Menurutnya, sepanjang tahun 2018 - 19 November 2023 ada 1.934 kejadian kecelakaan di perlintasan sebidang. “Sebanyak 1.667 kejadian (86,2%) di antaranya terjadi di perlintasan sebidang yang tidak dijaga. Sisanya, 267 kejadian (13,8%) di perlintasan sebidang yang terjaga,” imbuh Djoko.
Baca Juga
Telkom Resmikan neuCentrIX Cirebon, Perluas Layanan Data Center di Berbagai Daerah
“Sementara korban jiwa selama kurun waktu tahun 2018 hingga 19 November 2023, jumlah korban sebanyak 1.409 jiwa. Jumlah korban meninggal dunia 502 jiwa (35,6%). Jumlah korban dengan luka berat 458 jiwa (32,5%) dan jumlah korban luka ringan 449 jiwa (31,9%),” lanjut dia.
Djoko melanjutkan, telah terjadi sebanyak 284 kecelakaan di perlintasan sebidang dari Januari 2024 – 13 Oktober 2024, angka tersebut naik 14% dibandingkan tahun 2023 sebanyak 250 insiden kecelakaan.
“Tahun 2024, melibatkan 154 sepeda motor (54%) dan 130 mobil (46%). Dibanding tahun 2023, ada kenaikan 3% untuk sepeda motor (150 unit) dan 30% (100 unit). Saat ini terdapat 63% perlintasan tidak dijaga dan hanya 37% yang dijaga,” jelas dia.

