Kementerian ESDM Sebut PLN Punya Utang Pembangkit Listrik EBT 8,2 GW
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyoroti pembangkit listrik tenaga energi baru terbarukan (EBT) milik PT PLN (Persero) yang masih kurang dari target Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) hingga 2025.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi menyebutkan, sampai tahun 2025 masih perlu 8,2 GW (8.224,1 MW) lagi pembangkit listrik EBT yang mesti dibangun PLN. Adapun investasi yang diperlukan untuk ini adalah US$ 14,02 miliar.
"Kalau kita hitung, untuk mencapai bauran (EBT) yang sesuai dengan RUPTL, jadi saya kan beberapa kali bilang PLN ngutang ke Kementerian ESDM karena RUPTL gak pernah tercapai,” kata Eniya di kantor Direktorat Jenderal EBTKE, Jakarta, Senin (9/9/2024).
Baca Juga
Disampaikan oleh Eniya, utang pembangkit listrik EBT ini terdiri dari berbagai jenis, seperti pembangkit listrik berbasis panas bumi (geothermal), air, hidrogen, hingga berbasis bayu (angin).
Menurutnya, peningkatan kapasitas listrik EBT sesuai target pada tahun 2025 bukanlah hal yang mustahil. Namun, dia tidak memungkiri bahwa memerlukan dana investasi yang sangat besar.
Lebih lanjut, Eniya menyebutkan bahwa belum tercapainya target dalam RUPTL ini juga menjadi perhatian Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia. Pasalnya, tidak tercapainya target tersebut berpengaruh terhadap masuknya investasi.
“Makanya RUPTL jadi perhatian besar Pak Bahlil untuk segera dibahas karena memang target-target RUPTL ini gak tercapai,” ungkap dia.
Baca Juga
PLN dan HDF Energy Tanda Tangani MoU Pengembangan Ekosistem Hidrogen di Indonesia
Eniya mengungkapkan, beberapa sumber-sumber energi terbarukan di Indonesia yang potensi ketersediaanya mencukupi bahkan beberapa melimpah seperti, solar (3.294 GW), angin (155 GW), air (95 GW), arus laut (63 GW), BBN (57 GW), dan panas bumi (23 GW).
Untuk sumber energi panas bumi yang potensinya sangat besar dan berperan penting dalam mewujudkan net zero emission (NZE), Eniya mengatakan, sudah menawarkan pengembangannya kepada investor.
"Indonesia memiliki potensi sumber energi panas bumi yang melimpah hingga mencapai 23,6 GW dengan yang sudah termanfaatkan 2,6 GW (11%) sehingga ketersediaannya untuk dimanfaatkan masih sangat terbuka,” jelas Eniya.

