Tak Lagi Jadi Ibukota, Jakarta Masih Butuh Investasi Rp325 T agar Jadi Global Smart City
JAKARTA, Investortrust.id – Jakarta dalam waktu dekat tak lagi menyandang status sebagai Daerah Khusus Ibukota. Secara legal, status bahwa Jakarta kini hanya menyandang status Daerah Khusus. Namun demikian tak lantas Jakarta tak lagi menarik untuk dikembangkan. Setidaknya sebanyak 34 proyek yang disiapkan oleh Badan Usaha Milik Daerah Kota Jakarta tengah digadang-gadang akan ikut menjadikan Jakarta sebagai Global City di tahun Indonesia Emas, di 2045.
Disampaikan Kepala Jakarta Investment Centre, unit pelaksana (up) Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP), Pemprov Jakarta Tona Hutauruk setidaknya terdapat 34 proyek yang akan dikembangkan oleh BUMD Kota Jakarta untuk mendukung Jakarta sebagai Global Smart City di tahun 2045.
“Pengembangan 34 proyek dari BUMD ini masih membutuhkan dana sebesar Rp325 triliun, dan proyek-proyek ini bukan dikembangkan hanya dalam periode satu atau dua tahun, tapi hingga tahun 2045,” ujar Tona di sela diskusi “Investing in Jakarta's Urban Redevelopment” dalam rangkaian Jakarta Investment Festival (JIF) Summit 2024 di Jakarta, Jumat (6/9/2024).
Sekadar informasi Jakarta sejatinya tak lagi menyandang status sebagai Daerah Khusus Ibukota setelah Undang-undang (UU) Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta (DKJ) resmi ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 25 April 2024.
Namun demikian Jakarta masih diperkenankan menjadi Daerah Khusus Ibukota sampai dengan penetapan Keputusan Presiden mengenai pemindahan Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia dari Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta ke Ibu Kota Nusantara (IKN) sesuai dengan ketentuan perundangan-undangan. Hal ini ditetapkan dalam Pasal 63 UU Nomor 2 Tahun 2024 tentang Daerah Khusus Jakarta.
Soal pengembangan Jakarta sebagai Smart City skala global, disampaikan Tona pihaknya sebagai kepala Jakarta Investment Centrekini berupaya proaktif menawarkan konsep-konsep pengembangan Jakarta di masa depan. Bahkan di luar 34 proyek yang ditangani BUMD tersebut, pihaknya tengah mencoba menawarkan pada investor untuk mengembangkan 12 kawasan di Jakarta yang dinilai sangat potensial.
Dari 12 kawasan tersebut di antaranya adalah Bumi Perkemahan Ragunan yang akan dikembangkan menjadi Green Enclave dan New Commercial Core, Waduk Melati yang akan dikembangkan menjadi Transit Neighborhood Redevelompent, Pasar Baru – Lapangan Banteng yang akan dikembangkan menjadi Cultural Shopping District.
“Rencana pengembangan 12 kawasan ini baru rancangan ya, dan diharapkan ke depan bisa dimasukkan dalam Rancangan Tata Ruang dan Wilayah Kota Jakarta,” ujar Tona.
Untuk membuat rancangan kota Jakarta ke depan, pihaknya bekerja sama dengan Esri Indonesia yang akan memberikan pengolahan data profil kawasan lewat SIG (Sistem Informasi Geospasial).
Disampaikan Sulistyo, Head of Professional ServicesEsri Indonesia, Jakarta tetap harus terus berbenah menuju visi Smart City global. Salah satunya dengan pemanfaatan teknologi geospasial untuk mengoptimalkan perencanaan dan desain kota.
“Teknologi Sistem Informasi Geografis (GIS) mampu memvisualisasikan berbagai lapisan data melalui peta digital. Teknologi ini memungkinkan investor, korporasi, hingga pemerintah berdialog dalam konteks yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan,” ujar Sulistyo di ajang Jakarta Investing Forum (JIF) 2024 yang digelar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Jumat (6/9/2024).
Menurutnya, data mengenai properti, akses infrastruktur, hingga demografi penduduk kini dapat dipetakan secara presisi untuk mengungkap tren-tren yang sebelumnya sulit diidentifikasi.
Memanfaatkan teknologi geospasial untuk menganalisis lapisan data properti dan lokasi adalah tema utama JIF 2024. Forum ini bertujuan memperkuat posisi Jakarta sebagai kota pintar global dan pusat perdagangan dunia, seiring dengan peralihan dari pusat pemerintahan. Diskusi tematik ‘Investasi dalam Pembaharuan Kota Jakarta’ berfokus pada pengembangan struktur investasi yang ada serta mengidentifikasi peluang kolaborasi baru.
Sulistyo menekankan pentingnya pemanfaatan analisis prediktif berbasis geospasial. “Dengan data spasial, peta tak lagi sekadar alat visualisasi statis, melainkan perangkat prediktif yang mampu mensimulasikan tantangan dan peluang sukses proyek investasi,” jelasnya.
Esri Indonesia, sebagai penyedia teknologi GIS, berperan besar dalam mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Alat interaktif berbasis GIS memungkinkan perencana kota dan pejabat pemerintah mempelajari data demografi, ekonomi, lalu lintas, dan infrastruktur secara luas maupun spesifik hingga ke tingkat lingkungan.
“Jakarta memerlukan perencanaan matang dalam keterhunian, mobilitas, dan infrastruktur. Dengan GIS, pejabat dan perencana kota dapat mengakses data secara menyeluruh dan mendetail untuk memastikan keputusan yang tepat,” ujar Sulistyo.
Ia menambahkan, solusi geospasial kini telah berkembang menjadi alat strategis dalam pengambilan keputusan. “Bayangkan Jakarta dengan infrastruktur yang dirancang presisi, alokasi sumber daya yang berbasis nilai, serta dampak pembangunan yang dapat diantisipasi sebelum terjadi. Ini bukan lagi masa depan yang jauh, melainkan realitas yang dapat diwujudkan dengan data geospasial saat ini,” tandasnya.

