Transjakarta Bidik 3 Sektor Ini untuk Ganti Nama Halte di Wilayah Jakarta, Siapa Saja?
JAKARTA, investortrust.id - PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) mengungkapkan, setelah mengganti nama Halte Gelora Bung Karno (GBK) menjadi Halte Senayan Bank DKI melalui hak penamaan (naming rights), akan ada beberapa halte lagi yang akan diubah namanya.
Direktur Bisnis dan Pemanfaatan Aset Transjakarta, Fadly Hasan menyampaikan, pihaknya telah bernegosiasi dengan tiga sektor yang berminat dalam skema hak penamaan ini di antaranya perbankan, otomotif hingga pertambangan.
“Ada beberapa perusahaan yang sekarang ini dalam proses penjajakan, lagi proses negosiasi, ada dari sektor otomotif, perbankan, kemudian kita lagi mendekati juga sektor tambang,” ungkap Fadly saat ditemui di Halte Tosari, Jakarta Pusat, Rabu (28/8/2024).
Fadly menjelaskan, kontrak naming rights ini berlaku secara tahunan dan memiliki rentang nilai hingga Rp 25 miliar. “Range-nya antara Rp 1 sampai Rp 25 miliar per tahun,” katanya.
Baca Juga
Transjakarta Perluas Jangkauan Layanan Lewat Modifikasi Koridor 14 JIS - Senen
Ia menambahkan, rentang harga tersebut dikarenakan banyaknya variasi ukuran halte dan jenis halte Transjakarta. “Ada yang halte pinggir, non-BRT, ada halte yang kawasan di luar Jakarta yang mungkin agak ke pinggir (kota) begitu,” terang Fadly.
Berdasarkan catatan investortrust.id, halte Transjakarta yang teranyar dalam hak penamaan (naming rights) yakni Halte Senayan Bank DKI yang dulunya bernama halte Gelora Bung Karno (GBK).
“Jadi, yang sekarang GBK akan menjadi Senayan Bank DKI,” kata Direktur Pelayanan dan Bisnis Transjakarta, Fadly Hasan di Transport Hub Dukuh Atas, Jakarta, Selasa (9/7/2024) lalu.
Penamaan halte Senayan Bank DKI ini, lanjut dia, merupakan sinergi antara Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan Bank DKI untuk menaikkan penjualan hak penamaan dan kesadaran merek (brand awareness).
Baca Juga
Hak penamaan halte, lanjut dia, merupakan langkah awal dari berbagai program yang akan dijalankan oleh Transjakarta dan Bank DKI untuk meningkatkan layanan transportasi publik di Jakarta.
Maka dari itu, Fadly menekankan perubahan nama halte ini merupakan peningkatan layanan integrasi demi mendukung Jakarta sebagai kota global.
Ia menyampaikan, nama halte yang lebih netral dan sesuai dengan nama daerah setempat dinilai akan membantu pengguna baru maupun pelanggan Transjakarta menemukan halte yang dituju lebih mudah.
“Kami mengupayakan supaya nama halte menjadi netral dengan namanya lokasi atau area tersebut,” ujar Fadly.
Fadly pun mengharapkan, kemitraan ini dapat mewujudkan transportasi publik yang berkelanjutan dan bermanfaat bagi masyarakat Jakarta.
Sebagai catatan, TransJakarta terus melakukan sosialisasi perubahan nama halte ke pelanggan melalui media online ataupun diskusi ke komunitas dan lembaga. Hal itu mengingat sebanyak 1,3 juta pelanggan per hari di layanan TransJakarta tentunya belum tersosialisasi secara menyeluruh.
Pada tahun 2024, Transjakarta melakukan perubahan nama beberapa halte yang bertujuan untuk menetralisasi nama tersebut.
Dengan perubahan nama halte menjadi lebih netral, maka TransJakarta bisa memiliki sumber pendapatan baru melalui hak penamaan halte.

