HIS (HAIS) Gelar Seminar “Green Shipping”, Ini Hasilnya
SURABAYA, investortrust.id - PT Hasnur Internasional Shipping Tbk (HIS), emiten jasa logistik dan transportasi laut yang bernaung di bawah bendera Hasnur Group, menggelar seminar nasional pelayaran berkelanjutan (green shipping) bertajuk Marine Sustainable Energy: A Practical Approach, Regulator Insight, and Potency of Use, for Local Shipping Business to be Green Company di Surabaya, Kamis (22/8/2024).
Seminar yang dihelat di Gedung BG Munaf, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya itu merupakan hasil kerja sama Hasnur Shipping dengan Departemen Teknik Sistem Perkapalan, Fakultas Teknologi Kelautan ITS.
“Seminar ini dilaksanakan sebagai salah satu bentuk komitmen kami dalam mendukung praktik bisnis berkelanjutan melalui berbagai upaya kegiatan operasional pelayaran yang ramah lingkungan untuk mengurangi emisi,” kata Direktur Operasi PT Hasnur Internasional Shipping Tbk, Laorentina Devi dalam keterangan resmi yang diterima investortrust.id di Jakarta, Jumat (23/8/2024).
Baca Juga
Hasnur Internasional Shipping (HAIS) Kapalkan Kargo Batu Bara ke Vietnam
Menurut Devi, seminar yang digelar emiten bersandi saham HAIS itu bertujuan memberikan wawasan mendalam kepada para pelaku bisnis pelayaran lokal, khususnya yang bergerak di sektor tug and barge (kapal tunda dan tongkang) mengenai komitmen Hasnur Shipping dalam mendukung proses pencapaian Net Zero Emission (NZE), khususnya di sektor maritim.
“Melalui seminar ini, perseroan juga ingin menyampaikan kepada publik tentang inovasi penggunaan solar panel pada armada tugboat milik Hasnur Internasional Shipping sebagai inisiatif awal dan langkah nyata dalam mengurangi emisi gas karbon,” tutur dia.
Berdasarkan data Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Indonesia pada 2019 memiliki 9.801 unit tugboat dan 9.818 unit barge yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara. Alhasil, sektor ini sangat vital bagi kelancaran transportasi laut dan logistik nasional.
“Namun, kontribusi emisi karbon dari sektor ini cukup signifikan, mengingat tingginya konsumsi bahan bakar fosil dalam operasional kapal-kapal tersebut,” ujar Devi.
Laorentina Devi menegaskan, transformasi menuju operasional bisnis yang lebih ramah lingkungan merupakan sebuah keharusan bagi industri pelayaran, terutama di sektor tug and barge yang memiliki peran strategis dalam mendukung kelancaran logistik nasional.
“Melalui penggunaan alternatif energi terbarukan seperti solar panel, kami berupaya menjadi pionir dalam penerapan green shipping pada sektor tug and barge di Indonesia,” tandas dia.
Seminar ini, kata Devi, diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan HUT ke-58 Hasnur Group pada Agustus ini. Tema terkait green shipping pada seminar ini selaras dengan tema HUT ke-58 Hasnur Group yang mengedepankan keberlanjutan, yaitu Innovation for Sustainable Future.
Dia menambahkan, seminar ini juga diharapkan mampu membangkitkan kesadaran di kalangan pelaku usaha pelayaran tentang pentingnya menjaga kelangsungan energi dan lingkungan di dunia maritim.
“Selain itu, seminar ini dapat memperkaya pengetahuan peserta mengenai potensi penggunaan energi baru terbarukan, regulasi terkait, serta studi nasional dan internasional dalam menjaga keberlanjutan dunia maritim,” papar dia.
Menyongsong Era NZE
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama dan Kealumnian ITS, Agus Muhamad Hatta mengemukakan, amanah pendiri ITS adalah pengembangan di bidang maritim.
“Untuk itu, kami berharap dari seminar ini ada sharing hasil penelitian dan pengalaman praktis di lapangan, sehingga memberikan banyak insight dalam pengembangan di bidang maritim, khususnya kesiapan dalam menyongsong era NZE,” ujar dia.
Dekan Fakultas Teknologi Kelautan ITS, Trika Pitana menyambut dengan baik kolaborasi antara alumni dan industri dengan kampus dalam pengembangan teknologi maritim.
Seminar ini menghadirkan para pembicara yang berkompeten di bidangnya, baik dari sisi regulator, pelaku industri maritim dan industri terkait, maupun kalangan akademisi.
Seminar dibagi dalam tiga sesi, yaitu sesi keynote dengan topik Marine Sustainable Energy: A Practical Approach, Regulator Insight, and Potency of Use, for Local Shipping Business to be Green Company yang diisi pembicara dari anggota legislatif, regulator, dan akademisi.
Kemudian sesi talkshow kedua dengan topik Implementasi Green Shipping di Sektor Tugboat dan Barge. Lalu sesi talkshow ketiga dengan topik Bahan Bakar Alternatif untuk Industri Pelayaran Berkelanjutan.
Dari hasil berbagai diskusi, diperoleh beberapa insight yang antara lain perlu adanya kolaborasi yang serius di antara stakeholder di sektor maritim, mulai dari regulator, akademisi, dan pelaku industri untuk menuju green shipping demi mendukung pengurangan emisi.
Dari sisi supply chain energi baru dan terbarukan, industri maritim perlu dukungan suplai bahan bakar alternatif, seperti hidrogen dari PLN atau Pertamina serta infrastrukturnya. Sedangkan dari sisi teknologi, industri maritim perlu meningkatkan akselerasi kesiapan teknologi untuk diterapkan, terutama tugboat yang membutuhkan energi density cukup tinggi.
Baca Juga
Hasnur (HAIS) Suntik Modal Anak Usaha Rp 84,99 Miliar, Kepemilikan Saham Naik Jadi 98,65%
Heru Hermawan, salah satu narasumber dari PT Trakindo Utama, mengatakan, penggunaan bahar bakar alternatif di bidang maritim memerlukan pemikiran alternatif.
“Melihat karakteristik mesin diesel dan permintaan kapal tug boat di Indonesia, metanol sangat berpotensi menjadi bahan bakar rendah karbon untuk kapal tug boat di Indonesia,” tutur dia.
Pernyataan itu dikuatkan oleh Kepala Departemen Teknik Sistem perkapalan ITS, Beny Cahyono yang sudah melakukan beberapa pengujian bahan bakar alternatif rendah karbon.
“Metanol merupakan bahan bakar potensial untuk mesin dengan putaran tinggi dan secepatnya bisa diaplikasikan di mesin kapal,” ujar dia.
Laorentina Devi berharap seminar tersebut mampu menumbuhkan semangat dekarbonisasi di kalangan generasi muda untuk terus mempelopori perwujudan NZE dalam menjaga keberlanjutan dunia maritim.
“Acara ini merupakan wujud nyata komitmen HIS dalam mendukung terciptanya lingkungan yang lebih hijau dan berkelanjutan di sektor pelayaran,” tegas Devi.

