Meski Platform Online Marak, Masyarakat Indonesia Ternyata Masih Senang Belanja Langsung
JAKARTA, investortrust.id - Meski tren belanja daring (online) menunjukkan peningkatan pesat, banyak konsumen Indonesia masih memilih untuk berbelanja mengombinasikan kedua metode belanja luring dan daring (offline) untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal.
Dalam studi terbaru Populix berjudul “Understanding Shopper Preferences in Grocery Shopping”, terungkap bahwa sebesar 25% responden mengatakan bahwa mereka berbelanja baik melalui toko fisik maupun platform e-groceries dalam enam bulan terakhir. Mereka mengombinasikan kedua metode belanja tersebut karena ingin menghemat waktu dan tenaga (59%), bisa menemukan beragam produk dengan penawaran terbaik (55%), serta ingin memaksimalkan kelebihan dari kedua metode tersebut (52%).
“Di era digital saat ini, platform e-groceries mampu menawarkan pelayanan belanja groceries yang mengedepankan kemudahan dan kenyamanan tambahan kepada pelanggan. Meskipun masyarakat masih menunjukkan kebiasaan berbelanja yang signifikan terhadap pembelian secara offline, perkembangan e-groceries terus memberikan solusi yang inovatif dan praktis untuk memenuhi kebutuhan konsumen di berbagai situasi,” ujar Vice President of Research Populix Indah Tanip melalui keterangan resmi Populix pada Rabu (14/8/2024).
Baca Juga
Supermarket Korea Selatan Jual Makanan Bertema Bitcoin Seharga Rp 78.600
Indah menjelaskan e-groceries utamanya dimanfaatkan oleh responden yang telah berkeluarga dan memiliki anak, serta para pegawai kantoran. Kelompok masyarakat ini membutuhkan opsi berbelanja yang mengutamakan kenyamanan berbelanja dari mana saja dan layanan pengantaran bebas biaya untuk mendukung rutinitas sehari-hari mereka yang padat.
Studi Populix mengungkap bahwa 26% responden berbelanja di platform e-groceries dalam enam bulan terakhir. Di antara berbagai pemain di industri platform e-groceries, Alfagift, Klik Indomaret, GrabMart, HappyFresh, Sayurbox, GoFresh, ShopeeSegar, AlloFresh, Segari, ASTRO, dan Circle K Shopping merupakan platform yang biasa digunakan oleh masyarakat.
"Mereka cenderung berbelanja beberapa kali dalam sebulan, terutama saat ada diskon, dengan rata-rata pengeluaran sekitar Rp 500 ribu dalam sekali transaksi. E-groceries banyak digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari dan makanan dalam kemasan," tutur Indah.
Baca Juga
Aprindo Proyeksi Pertumbuhan Kinerja Ritel Modern Melambat Jadi 4,8%
Masyarakat Indonesia mengungkap bahwa e-groceries semakin diminati karena dapat menghemat biaya berbelanja. Sebab, e-groceries banyak menawarkan program promosi dan harga produk yang terjangkau, serta menawarkan kenyamanan layanan pengantaran ke rumah.
"Terdapat juga beberapa tantangan yang dihadapi masyarakat dalam berbelanja melalui platform e-groceries, seperti tingginya biaya pengiriman, keterlambatan pengiriman, dan tidak dapat melihat dan memilih produk secara langsung," ujarnya.
Walaupun demikian, menurut Indah, toko fisik diminati karena memberikan pengalaman interaksi dengan barang dan pegawai toko yang tidak dapat ditemukan dari layanan daring. Studi Populix menunjukkan bahwa 74% responden memilih hanya berbelanja secara langsung di toko fisik.
Toko kelontong (minimarket) menjadi tempat berbelanja yang paling banyak dipilih dalam kurun waktu enam bulan terakhir. Sebanyak 77% masyarakat Indonesia memilih minimarket untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari, khususnya di antara responden perempuan dan pegawai kantoran. Sementara itu, 58% responden memilih berbelanja di pasar swalayan (supermarket), dan 26% belanja di adipasar (hypermarket) dalam enam bulan terakhir.

