Kemendag Ragu Pelemahan Rupiah Akan Dongrak Nilai Ekspor RI, Ini Alasannya
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) Didi Sumedi mengau tidak yakin tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dapat meningkarkan nilai ekspor Indonesia.
Meskipun menurutnya, tren pelemahan nilai rupiah tersebut dapat menjadi daya saing produk Indonesia yang diekspor di pasar internasional. Namun, jika berkaca pada tren yang terjadi 2023 lalu, Didi menyebutkan kondisi nilai ekspor Tanah Air pun tak meningkat.
"Ada dua sisi ya sebetulnya, dalam arti seolah-olah penurunan ini menjadi daya saing kita semakin kuat, karena menjadi murah kan barang kita. Tapi ternyata tidak juga," ucap Didi saat ditemui di Kantor Kemendag, Rabu (3/4/2024).
Baca Juga
Didi menjelaskan, nilai ekspor pada tahun lalu menurun meskipun volumenya meningkat. Hal tersebut disebabkan oleh tekanan rupiah yang melemah pada 2023, sehingga nilai jual dari komoditas ekspor pun ikut terpengaruh.
"Karena yang dulu tahun 2022 yang istilahnya bisa menjual 1 unit US$ 1, tahun 2023 terutama pada saat tinggi dolarnya, itu mungkin hanya bisa menjual 1 unit itu US$ 0,8 per unit. Jadi ada trennya, sehingga dari sisi nilai pengaruhnya turun," terangnya.
Kendati demikian, Didi mengungkapkan bahwa nilai ekspor Indonesia bisa meningkat pada saat terjadinya pelemahan nilai tukar rupiah ketika harga komoditas sedang tinggi di pasar internasional.
Baca Juga
Kemendag Tetapkan Harga Patokan Ekspor Konsentrat Tembaga dan Seng Naik pada April 2024
"Tapi tergantung, kalau harga komoditasnya lagi bagus, nah ini booming juga. Tapi kalau lagi turun seperti tahun lalu, beberapa komoditas ekspor kita turun harganya di pasar internasional," tandas Didi.
Diketahui, kurs rupiah ditutup anjlok, nyaris menyentuh level psikologis Rp 16 ribu per USD. Dalam penutupan perdagangan di pasar spot valas, sebagaimana dilansir Yahoo Finance, Kamis (3/4/2024) sore, mata uang Garuda melemah 29 poin ke level Rp 15.293 per USD.
Sementara kurs Jidsor yang dirilis Bank Indonesia mencatat, rupiah ditutup bounce back ke posisi Rp 15.923 per USD. Ini menguat 10 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya yakni Rp 15.934 per USD.

