Pertamina: Produksi Bioavtur Tidak Bisa hanya Bergantung pada Sawit
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah Indonesia sedang mendorong produksi bioavtur, yang merupakan bahan bakar ramah lingkungan untuk pesawat terbang. Pasalnya, Indonesia memiliki sumber daya minyak kelapa sawit (palm oil) yang menjadi bahan baku dalam pembuatan bioavtur.
Kendati demikian, Head of CCUS Development Program Pertamina New & Renewable Energy, Bayu Prabowo menyebutkan, Indonesia tidak bisa hanya bergantung pada minyak sawit dalam memproduksi bioavtur.
Menurutnya, Indonesia perlu juga menyiapkan non-edible feedstock (bahan baku yang tidak dapat dimakan). Dengan demikian, Indonesia bakal memiliki bahan baku yang lebih sustainable untuk bioavtur, karena bahan baku tersebut tidak berkompetisi dengan pangan.
Baca Juga
“Kalau kita melihat lebih jauh, sebenarnya kalau kita melayani market-market internasional, misalnya Garuda Indonesia yang tujuan luar, kita melihat feedstock yang lebih sustainable. Karena di Pertamina kita melakukan pengembangan ke arah non-edible feedstock,” jelas Bayu Prabowo saat ditemui di Jakarta Convention Center, kamis (4/7/2024).
Lebih lanjut Bayu menyebutkan contoh non-edible feedstock yang bisa digunakan dalam produksi bioavtur meliputi limbah agrikultur, limbah minyak goreng (minyak jelantah), dan berbagai bahan baku lainnya yang tidak berkompetisi dengan makanan.
“Itu yang kita targetkan untuk jadi pengembangan yang lebih masif. Tapi memang masih dalam tahap pengembangan. Jadi kalau untuk market lokal, memang regulasi dari pemerintah meninjinkan untuk feedstock yang saat ini dipakai (minyak sawit). Cuman kalau kita menyasar market yang lebih besar, yang men-serve pasar internasional, kita akan sourcing ke feedstock yang lebih advance,” ungkapnya.
Sejauh ini, Pertamina sejatinya telah berhasil memproduksi bahan bakar campuran bioavtur, yakni mencampurkan 2,4% minyak inti sawit. Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan campuran 5% untuk bioavtur tersebut.
Baca Juga
Anak Usaha Surge (WIFI) Catatkan Obligasi Rp 600 Miliar, Cek Peruntukan Dananya
Menanggapi hal ini, Bayu mengungkapkan kalau misalnya 5% hanya untuk kebutuhan lokal, menurutnya itu tidak terlalu masalah. Ia menyebut hanya tinggal melakukan pengaturan dengan industri sawit saat komersial agreementnya tercapai, sehingga bisa langsung menerapkan sampai ke 5%.
“Namun, kalau ternyata regulasi internasional tidak mengizinkan feedstock yang sudah ready saat ini di Indonesia (sawit), makanya kita harus mulai lagi dari sourcing feedstock. Dan itu makan waktu lebih lama. Mungkin beyond 2030 ya baru akan bisa mulai kelihatan blendingnya seperti itu,” papar Bayu.

