Pemerintah Kesulitan Mencari Investor Smelter Bauksit
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengaku kesulitan dalam mencarikan investor untuk membangun fasilitas pemurnian atau smelter bauksit.
Staf Khusus (Stafsus) Menteri ESDM Bidang Percepatan Tata Kelola Mineral dan Batu Bara Irwandy Arif mengatakan, Kementerian ESDM sudah berupaya mempertemukan sejumlah perusahaan tambang bauksit di Tanah Air dengan calon investor untuk mendanai pembangunan smelter bauksit atau Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR). Namun, upaya tersebut tak membuahkan hasil yang maksimal.
"Kita sudah berupaya kemarin (mengumpulkan perusahaan tambang bauksit dan calon investor smelter bauksit). Nah, terus Indonesia juga sudah promosi ke luar kan, ke Amerika Serikat (AS) atau ke mana. Tetapi enggak mudah karena mereka ditawarkan (mengakunya) sudah punya partner sendiri, mengupayakan keuangan sendiri," katanya ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM pada Jumat (21/6/2024).
Seperti diketahui, pemerintah resmi melarang ekspor mineral mentah, termasuk bauksit sejak 10 Juni 2023. Pelarangan tersebut merupakan amanat dari Undang-Undang No. 3/2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (UU Minerba).
Di sisi lain Irwandy tak menampik bahwa biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan smelter bauksit terbilang besar. Namun, menurutnya itu tidak bisa dijadikan alasan bagi perusahaan yang menambang bauksit untuk tidak segera merampungkan smelternya.
Apalagi, pemerintah sudah memberikan keringanan atau relaksasi ekspor bauksit kepada perusahaan yang berkomitmen membangun smelter hingga 31 Mei 2024. Hingga saat ini, diketahui ada tujuh perusahaan yang belum merampungkan pembangunan smelter bauksit.
"Ya justru itu. Sudah jual-jual bauksit, enggak cukup-cukup juga uangnya kan (buat bangun smelter). Nah, bagaimana? Tentunya mereka bisa berusaha mencari investor atau uang sendiri kalau bisa. Kalau enggak cari partner kan?" ujarnya.
Selain Alumina Indonesia, diketahui ada smelter lainnya yang telah beroperasi di Indonesia, yakni PT Indonesia Chemical Alumina di Sanggau dan PT Well Harvest Winning Alumina Refinery di Ketapang. PT Well Harvest Winning Alumina Refinery juga diketahui sudah melakukan ekspansi smelter bauksitnya di lokasi yang sama.
Diketahui ada tujuh perusahaan yang belum merampungkan pembangunan smelter bauksitnya, antara lain PT Quality Sukses Sejahtera di Sanggau, Kalimantan Barat (Kalbar); PT Dinamika Sejahtera Mandiri berlokasi di Sanggau; PT Parenggean Makmur Sejahtera di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah (Kalteng).
Kemudian PT Persada Pratama Cemerlang berlokasi di Sanggau, Kalbar; PT Sumber Bumi Marau berlokasi di Ketapang, Kalbar; PT Kalbar Bumi Perkasa berlokasi di Sanggau, Kalbar; dan PT Laman Mining berlokasi di Ketapang, Kalbar.
Adapun, smelter bauksit yang sudah beroperasi di Indonesia antara lain PT Bintan Alumina Indonesia di Mempawah Kalbar, PT Indonesia Chemical Alumina di Sanggau dan PT Well Harvest Winning Alumina Refinery di Ketapang. PT Well Harvest Winning Alumina Refinery juga diketahui sudah melakukan ekspansi smelter bauksitnya di lokasi yang sama.
Sebelumnya, Menteri ESDM Arifin Tasrif geram dengan sejumlah investor yang menyatakan komitmennya untuk membangun smelter bauksit di Tanah Air.
Ditemui usai Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI pada Rabu (19/6/2024) di Komplek Parlemen, Jakarta Pusat, Arifin menyebut pemerintah selama ini dibohongi oleh investor yang menyatakan komitmennya untuk membangun smelter bauksit. Sebab, progres pembangunan fisik yang dilaporkan ternyata tidak sesuai dengan realisasi di lapangan.
"Selama ini kan dibohongi saja kita (Kementerian ESDM). Katanya pembangunan sudah sekian persen ternyata (ketika diperiksa) lapangan bola sama pos hansip," katanya kepada awak media.
Baca Juga
Menteri ESDM Geram Smelter Bauksit Tak Kunjung Rampung, Cuma Jadi Lapangan Bola
--

