Air Asia Indonesia (CMPP) Masih Rugi walau Pendapatan Melonjak 75%, Ternyata Ini Penyebabnya
JAKARTA, investortrust.id – Masakapai penerbangan berbiaya hemat, PT Air Asia Indonesia Tbk (CMPP) membukukan lonjakan pendapatan sebesar 75,24% menjadi Rp 6,62 triliun pada 2023 dibanding Rp 3,78 triliun pada 2022 (year on year/yoy).
Namun, masakapai asal Malaysia itu masih mencatatkan kerugian, meski nilainya turun signifikan. Rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk kepentingan nonpengendali Air Asia Indonesia tahun lalu turun 34% dari Rp 1,64 triliun menjadi Rp 1,08 triliun (yoy). Alhasil, rugi per saham turun menjadi Rp 101,20 dari Rp 154,41.
“Perseroan mencatatkan peningkatan kinerja keuangan yang signifikan sepanjang tahun lalu. Pendapatan perusahaan meningkat 75,24% (yoy) menjadi Rp 6,62 triliun,” kata Direktur Utama Indonesia AirAsia, Veranita Yosephine Sinaga dalam keterangan resmi, Minggu (12/5/2024).
Baca Juga
Perkuat Bisnis Penerbangan Pasca Pandemi, Kemenhub Tetapkan 17 Bandara Internasional
Menurut Veranita, sebagian besar pendapatan Air Asia Indonesia berasal dari operasi penerbangan. Penjualan tiket kursi pesawat berkontribusi Rp 5,63 triliun, diikuti pendapatan dari bagasi Rp 731,74 miliar, layanan penerbangan Rp 125,85 miliar, kargo Rp 44,26 miliar, dan sewa (charter) Rp 14,08 miliar.
“Denpasar menjadi sumber pendapatan utama sebesar Rp 2,63 triliun, diikuti Jakarta Rp 2,58 triliun, Surabaya Rp 784 miliar, dan Medan Rp 624 miliar,” tutur dia.
Veranita mengungkapkan, kendati terjadi kenaikan harga bahan bakar serta biaya perbaikan dan pemeliharaan, perusahaan yang mencatatkan saham (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Desember 1994 itu masih mencetak pendapatan.
“Manajemen sedang aktif memperoleh sumber pendanaan melalui beberapa skema potensial. Kami juga aktif mencari solusi untuk mengatasi tantangan ini dan memastikan kelangsungan operasional Perusahaan,” papar dia.
Hingga kini, kata Veranita Yosephine, operasional penerbangan Air Asia Indonesia berjalan lancer. Perseroan melayani pengangkutan penumpang dan barang tanpa gangguan, baik penerbangan domestik maupun internasional.
Veranita menegaskan, Air Asia Indonesia berkomitmen terus meningkatkan strategi keberlanjutan dan kelangsungan perusahaan. Langkah strategis ini tidak hanya menguntungkan perusahaan, tetapi juga turut membantu pemerintah menjaga stabilitas industri penerbangan di Tanah Air.
Dia menjelaskan, Air Asia Indonesia per Maret 2024 melayani 33 rute, terdiri atas 12 rute domestik dan 21 rute internasional. Tingkat ketepatan waktu (on time performance/OTP) meningkat 14% dari 73% pada kuartal I-2023 menjadi 87% pada kuartal I-2024.
Baca Juga
Menhub: Industri Jasa Penerbangan Makin Baik, Berapa Okupansi dan OTP-nya?
“Adapun tingkat keterisian penumpang (load factor) pada kuartal I-2024 mencapai 83%, naik 2% dari kuartal I-2023,” ujar dia.
Pada kuartal I-2024, menurut Veranita Yosephine Sinaga, Air Asia Indonesia melayani 10.874 penerbangan, meningkat 30% (yoy), dengan total jumlah penumpang 1,63 juta, melonjak 33% (yoy).
Veranita mengakui, perseroan secara operasional mengalami kerugian Rp 702,62 miliar. Setelah ditambah beban keuangan dan pajak, total kerugian perusahaan mencapai Rp 1,08 triliun.
Biaya Bahan Bakar dan Pemeliharaan
Tahun lalu, Air Asia Indonesia memiliki kas Rp 56,25 miliar, melesat dua kali lipat lebih dari awal tahun akibat pertumbuhan kas dari aktivitas operasional yang melonjak. Aset perseroan tercatat Rp 6,12 triliun, tumbuh 14,17%, sedangkan liabilitas mencapai Rp 14,02 triliun, naik 15,17% (yoy).
Laporan keuangan tahunan Air Asia Indonesia menunjukkan, total beban usaha perseroan tahun lalu membangkak 43,81% menjadi Rp 7,32 triliun dibanding tahun sebelumnya Rp 5,09 triliun (yoy).
Pembengkakan beban usaha terjadi akibat melonjaknya biaya bahan bakar dari Rp 1,87 triliun menjadi Rp 3,19 triliun, perbaikan dan pemeliharaan dari Rp 674,63 miliar menjadi Rp 1,72 triliun, serta pelayanan pesawat dan penerbangan dari Rp 398,37 miliar menjadi Rp 773,08 miliar.
Baca Juga
AirAsia Buka Penerbangan Almaty-Kuala Lumpur, Ini Dampaknya ke Pariwisata RI
Di sisi lain, beban gaji dan tunjangan meningkat dari Rp 351,32 miliar menjadi Rp 586,27 miliar, beban pemasaran naik dari Rp 182,70 miliar menjadi Rp 302,50 miliar, dan beban asuransi bertambah dari Rp 42,53 miliar menjadi Rp 63,70 miliar.
Sebaliknya, manajemen Air Asia Indonesia berhasil memangkas beban sewa pesawat dari Rp 143,38 miliar menjadi Rp 75,05 miliar. Begitu pula beban usaha lain, anjlok dari Rp 793,05 miliar menjadi Rp 192,92 miliar.
Pada penutupan perdagangan di BEI, Rabu (8/5/2024), saham CMPP ditutup stagnan di level Rp 64 dengan market cap Rp 683,85 miliar.
CMPP kini memiliki price to earning ratio (PER) minus 0,59 kali, dengan price to book value (PBV) minus 0,09 kali, return on asset (ROA) minus 20,28%, dan return on equity (ROE) sebesar 14,76%.

