Blok Tuna Masih Tak Ada Perkembangan, BUMN Rusia Jadi Penyebabnya
JAKARTA, investortrust.id - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengungkapkan proyek pengembangan Blok Tuna yang berada di Laut Natuna Utara hingga saat ini masih belum ada kemajuan.
Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, Hudi Suryodipuro menyebutkan, hal ini terjadi karena proses pencarian operator pengganti Zarubezhneft di Blok Tuna masih belum rampung.
“Blok Tuna saat ini kita masih menunggu update dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS)-nya sendiri. Tapi menurut pemahaman saya itu masih berproses secara business to business-nya,” kata Hudi saat ditemui di Kantor SKK Migas, Senin (6/5/2024).
Sebagai informasi hak pengelolaan Blok Tuna sebelumnya dipegang oleh perusahaan migas milik Rusia, yaitu Zarubezhneft, bersama dengan Premier Oil Tuna BV. Kedua perusahaan tersebut masing-masing memegang 50% hak partisipasi.
Baca Juga
SKK Migas Konfirmasi PGN Dapat Tambahan 2 Kargo LNG Tahun Ini
Kendati demikian, pada 2023 Zarubezhneft mengungkapkan bahwa mereka ingin hengkang karena terdampak sanksi atau pembatasan Uni Eropa dan pemerintah Inggris terhadap Rusia. Sanksi tersebut diberikan sebagai respons atas invasi tentara Rusia ke Ukraina.
Hal ini pada akhirnya membuat proyek pengembangan Blok Tuna yang terletak di Laut Natuna Utara menjadi diam di tempat. Meski begitu, Hudi menerangkan bahwa SKK Migas terus mendorong agar proses divestasi Zarubezhneft di Blok Tuna dapat segera dilakukan.
“Kan mereka menjanjikan waktu itu di bulan April, kita masih push terus ini neleponin perusahaan Rusia hampir tiap hari untuk kita minta. Soalnya kan itu mau ngejar supaya ada kepastian untuk terkait dengan pelaksanaan dari POD-nya sendiri,” jelas Hudi.
Hudi tidak memungkiri bahwa saat ini status Blok Tuna belum bisa bergerak ke mana-mana karena masih harus menyelesaikan divestasi Zarubezhneft terlebih dahulu.
Baca Juga
Paparkan Kinerja 2023, Dwi Soetjipto: Investasi Hulu Migas Capai US$ 13,7 Miliar
Proyek Blok Tuna sendiri disebutkan Hudi sejauh ini baru pengeboran pertama. Sementara saat ini SKK Migas hanya bisa menunggu proses divestasi. Ia yakin, begitu divestasi ini selesai maka semuanya akan berjalan sesuai proyeksi.
“Tapi prioritas kita yang paling utama adalah untuk memastikan divestasinya itu bisa berjalan dengan lancar. Soalnya kalau divestasinya gak jalan ya kita gak bisa bertransaksi dan proyeknya tidak bisa jalan. Intinya sih di situ,” pungkas dia.

