Produksi Minyak RI Sulit Digenjot, Dirjen Migas Ungkap Penyebabnya
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Tutuka Ariadji, tidak memungkiri produksi minyak Indonesia masih perlu ditingkatkan. Namun, ia menilai ini bukan hal mudah karena adanya sejumlah faktor penyebabnya.
Sebagai informasi, produksi minyak Indonesia saat ini adalah 567.118 barel per hari (BOPD) berdasarkan data bulan Maret 2024. Angka tersebut masih berada di bawah target sebesar 635.000 BOPD.
“Kalau produksi kita tahu saat ini kita bisa menahan decline-nya. Jadi saya tetap berterima kasih kepada KKKS yang bisa menahan decline, tidak terlalu tajam. Kalau dilihat sebenarnya decline-nya agak datar, tapi yang belum bisa adalah menaikkan produksi,” kata Tutuka di Kantor Kementerian ESDM, Selasa (16/4/2024).
Baca Juga
Pertamina Internasional EP Cetak Produksi Minyak 109% dari Target di Awal 2024
Tutuka menyampaikan, untuk meningkatkan produksi minyak, maka harus ada penemuan cadangan minyak baru atau mendorong Enhanced Oil Recovery (EOR) yang sudah dilaksanakan.
“Kalau belum kayaknya akan menahan produksi dengan workover, dengan drilling yang ada saat ini, dengan well service itu nahan produksi,” ujar dia.
Selain itu, secara kebetulan hasil penemuan eksplorasi yang dilakukan selama ini adalah gas, bukan minyak. Maka dari itu, menurutnya Indonesia harus bisa memanfaatkan gas semaksimal mungkin.
Kementerian ESDM sendiri memperkirakan konflik Iran-Israel berpotensi membuat harga minyak dunia naik sekitar US$ 5-10 per barel. Jika harga minyak dunia saat ini berada di kisaran US$ 90 per barel, maka perang bisa membuat harga minyak mendekati angka US$ 100 per barel.

