Harga Emas Melemah, Inflasi AS Perkuat Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia melemah ke sekitar US$ 4.015 per troy ounce pada awal perdagangan sesi Asia, Jumat (30/10/2026), setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) pada Desember mendatang. Prospek kebijakan moneter yang lebih ketat meningkatkan tekanan terhadap logam mulia tersebut karena emas tidak memberikan imbal hasil bunga.
Biro Analisis Ekonomi Departemen Perdagangan AS melaporkan indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) meningkat 0,5% pada September 2026. Kenaikan tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 0,3% pada Agustus, meskipun masih sesuai dengan perkiraan pasar.
Baca Juga
Emas dan Nikel Jadi Mesin Cuan, Laba Antam (ANTM) Melonjak 46% hingga September 2026
Data PCE menjadi salah satu indikator utama yang diperhatikan The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Kenaikan harga yang bertahan tinggi memberikan ruang lebih terbatas bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneternya.
“Prospek inflasi yang tetap tinggi dan terus melampaui target Fed membuka jalan bagi pemikiran bahwa Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan Desember. Itulah hambatan utama bagi pasar emas saat ini, dan laporan PCE hari ini sama sekali tidak meredakan kekhawatiran tersebut,” kata Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger dilansir FXStreet.
Tekanan terhadap emas juga muncul setelah Komite Pasar Terbuka Federal atau Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,75% hingga 4% dalam pertemuan kebijakan Oktober yang berlangsung Rabu (28/10/2026).
Ketua The Fed Kevin Warsh belum memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga berikutnya. Namun, dia mengakui bank sentral AS belum mencapai stabilitas harga. “Kami sedang berupaya,” ujar Warsh.
Peluang Kenaikan Bunga Jadi Perhatian Pasar
Ekspektasi perubahan kebijakan The Fed semakin terlihat dalam pergerakan kontrak berjangka suku bunga. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada pertemuan Desember mencapai sekitar 74,9%.
Kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan biaya peluang memegang emas. Berbeda dengan instrumen berbunga seperti obligasi dan deposito, emas tidak menghasilkan pendapatan bunga secara berkala.
Namun, tekanan terhadap emas tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi seluruh kelompok logam mulia. Pergerakan emas justru menunjukkan ketahanan relatif dibandingkan sejumlah logam lain yang lebih sensitif terhadap prospek pertumbuhan ekonomi.
TD Securities mencatat logam industri mengalami tekanan setelah pertemuan FOMC terbaru. Kondisi tersebut berbeda dengan emas yang masih menunjukkan ketahanan relatif di tengah ketidakpastian kebijakan moneter AS.
Menurut bank investasi tersebut, perak dan kelompok logam platinum atau Platinum Group Metals (PGM) mengalami pelemahan lebih besar karena tekanan faktor makroekonomi dan prospek pengetatan kebijakan moneter membebani perkiraan permintaan.
Baca Juga
Merdeka Gold (EMAS) Agresif Eksplorasi Emas Pani, Siapkan US$ 11,4 Juta
Perak dan PGM memiliki karakteristik permintaan yang berbeda dibandingkan emas. Selain digunakan sebagai aset investasi, kedua kelompok logam tersebut juga memiliki kebutuhan dari sektor industri.
Perak digunakan dalam berbagai produk elektronik dan teknologi energi, sedangkan platinum dan kelompok PGM lainnya dimanfaatkan dalam industri otomotif, katalis, serta sejumlah proses manufaktur.
TD Securities menilai emas masih cukup tangguh setelah keputusan FOMC, sementara perak dan PGM menunjukkan kinerja yang lebih lemah. Perbedaan pergerakan tersebut memperlihatkan perubahan preferensi investor terhadap aset logam mulia di tengah prospek kebijakan moneter yang lebih ketat.
