Bahlil Evaluasi Kontrak Energi dengan Negara yang Tak Kooperatif, Ekspor Bisa Disetop
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah akan mengevaluasi kontrak energi dengan negara-negara yang dinilai tidak kooperatif dan tidak menghargai hubungan bilateral dengan Indonesia. Pemerintah bahkan mempertimbangkan untuk menghentikan ekspor energi ke negara-negara tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional.
Bahlil mengatakan, kebijakan tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar sumber daya alam Indonesia diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan domestik. Pemerintah kini menempatkan ketahanan energi sebagai prioritas, sehingga kerja sama dengan negara lain harus tetap mempertimbangkan kepentingan nasional.
Baca Juga
Progres RDMP Balikpapan Sudah 99%, Bahlil: Kita Segera Selesaikan!
“Terkait dengan ketahanan energi kita, saya akan melakukan evaluasi kontrak dengan negara-negara lain yang tidak kooperatif, yang tidak saling menghargai antara hubungan sesama negara. Saya akan melakukan evaluasi dan saya tidak segan-segan untuk mempertimbangkan untuk tidak melakukan ekspor kepada negara mereka yang tidak menghargai Indonesia,” ujar Bahlil, dikutip Jumat (23/10/2026).
Menurut Bahlil, evaluasi tersebut tidak berarti pemerintah menutup peluang kerja sama energi dengan negara lain. Indonesia tetap terbuka menjalin hubungan bisnis, termasuk dengan perusahaan asing yang telah berinvestasi dan menjalankan kegiatan usaha di dalam negeri, sepanjang kerja sama tersebut memberikan manfaat bagi seluruh pihak.
Dia menegaskan pemerintah akan berupaya menyelesaikan persoalan yang dihadapi pelaku usaha, baik perusahaan domestik maupun asing. Namun, penyelesaian tersebut harus tetap berlandaskan peraturan yang berlaku dan prinsip saling menguntungkan, sehingga tidak ada pihak yang memperoleh keuntungan dengan merugikan pihak lainnya.
“Setiap perusahaan luar negeri yang telah masuk, bekerja dan melakukan investasi di dalam negeri, itu artinya mereka adalah saudara kita. Karena itu seluruh persoalan-persoalan kalian saya akan selesaikan, sudah barang tentu dengan memperhatikan bisnis yang saling menguntungkan. Aturan tetap kita pakai, win-win kita harus pakai. Kalian untung, perusahaan lokal untung, negara untung,” tegas Bahlil.
Sosok yang juga menjabat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) itu menyatakan Indonesia akan memberikan perlakuan berbeda kepada negara-negara yang menghormati hubungan bilateral dan menunjukkan sikap saling menghargai. Bahkan, pemerintah membuka peluang untuk menjalin kontrak pasokan energi dengan negara-negara tersebut meskipun sebelumnya belum memiliki perjanjian.
Baca Juga
Bahlil Sebut DIM RUU Migas Hampir Rampung, Progres Sudah di Atas 90%
“Tapi kalau negara-negara yang menghargai Indonesia, yang kita saling menghargai, maka sekalipun mereka tidak punya kontrak, kita akan membuat kontrak dan kita akan kasih kepada mereka. Itulah asas kesetaraan,” kata Bahlil.
