Harga Emas Menguat Setelah Turun Tiga Hari Berturut-turut
Harga emas kembali naik di atas $4.150 seiring penurunan imbal hasil obligasi, dan pidato Gubernur Fed Warsh menjadi fokus perhatian.
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia menguat mendekati US$ 4.165 per troy ounce pada awal perdagangan Asia, Jumat (16/10/2026), setelah melemah selama tiga hari berturut-turut. Kenaikan ini ditopang pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan penurunan imbal hasil obligasi Pemerintah AS. Pasar menanti petunjuk terbaru mengenai arah suku bunga dari Federal Reserve (The Fed).
Pelaku pasar mencermati pidato Ketua The Fed Kevin Warsh yang dijadwalkan berlangsung pada hari itu. Pernyataannya menjadi perhatian karena dapat memberikan gambaran mengenai kebijakan moneter AS dan memengaruhi pergerakan dolar serta daya tarik emas.
Baca Juga
Harga Emas Turun ke US$ 4.155, Pasar Menanti Data Inflasi AS
Imbal hasil obligasi Pemerintah AS bertenor 30 tahun turun lebih dari 8 basis poin menjadi 5,42%. Imbal hasil obligasi acuan bertenor 10 tahun juga merosot lebih dari 8 basis poin menjadi 5,079%, sedangkan imbal hasil obligasi bertenor dua tahun melemah lebih dari 5 basis poin menjadi 4,745%.
Penurunan imbal hasil tersebut mengurangi tekanan terhadap emas yang tidak memberikan bunga atau kupon. Ketika imbal hasil aset berbunga turun, biaya peluang untuk memegang emas cenderung berkurang sehingga logam mulia berpotensi lebih menarik bagi investor.
Selain itu, penurunan harga minyak meredakan sebagian kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi. Kondisi tersebut turut memengaruhi perkiraan pelaku pasar mengenai kemungkinan The Fed kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Meski demikian, tekanan inflasi di AS belum sepenuhnya mereda. Data Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI), yang mengukur perubahan harga barang dan jasa di tingkat produsen, pada Kamis menunjukkan kenaikan lebih tinggi daripada perkiraan pasar.
Data tersebut memperkuat perhatian investor terhadap risiko inflasi yang dapat memengaruhi keputusan suku bunga bank sentral AS. Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober mulai mereda karena pelaku pasar mempertanyakan kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga dalam dua bulan berturut-turut.
Baca Juga
Berdasarkan perangkat CME FedWatch, kontrak berjangka suku bunga federal atau Fed Funds Futures masih memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun. Perkiraan tersebut menunjukkan bahwa risiko pengetatan kebijakan moneter masih diperhitungkan oleh pelaku pasar.
